Kondisi pasar modal Amerika Serikat mengalami tekanan signifikan setelah harga minyak mentah melonjak secara drastis. Fenomena ini dipicu oleh pernyataan keras Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.
Ketegangan diplomatik tersebut menimbulkan keraguan besar di kalangan pelaku pasar terhadap keberlanjutan gencatan senjata antara kedua negara. Dilansir dari Investasi, pasar juga merasa khawatir terhadap potensi gangguan di Selat Hormuz yang dapat mengacaukan pasokan energi dunia.
Efek berantai dari kenaikan harga energi ini langsung mendorong lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun. Bahkan, angkanya menyentuh level tertinggi sejak Mei 2025.
Lonjakan imbal hasil obligasi memperkuat asumsi bahwa inflasi akan bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama. Kondisi ini diperkirakan memaksa Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi di luar prediksi pasar sebelumnya.
Kepala Strategi Pasar Slatestone Wealth, Kenny Polcari, berpendapat bahwa selama ini pasar terlalu terbuai oleh tren kecerdasan buatan (AI).
"Pasar sudah bergerak terlalu jauh dan kurang memperhatikan sinyal dari pasar obligasi maupun data ekonomi," ujar Kenny Polcari.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga AS meningkat tajam. Peluang The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember kini mencapai hampir 40 persen, naik dari posisi 13,6 persen pada pekan lalu.
Kinerja Indeks dan Saham Sektoral
Meskipun Wall Street terkoreksi dalam, indeks S&P 500 masih mencatatkan penguatan mingguan untuk ketujuh kalinya secara beruntun. Namun, Nasdaq harus mengakhiri tren kenaikan enam pekan mereka, sementara Dow Jones juga melemah secara mingguan.
Sektor energi menjadi satu-satunya yang bertahan positif di S&P 500 dengan kenaikan 2,3 persen seiring reli harga minyak. Di sisi lain, sektor teknologi dan semikonduktor justru menjadi kelompok yang paling terdampak aksi jual.
Indeks semikonduktor Philadelphia tercatat turun 4 persen. Penurunan ini dipimpin oleh saham NVIDIA yang anjlok 4,4 persen, Advanced Micro Devices (AMD) turun 5,7 persen, serta Intel yang merosot 6,2 persen.
Pergerakan Saham Individual
Di tengah pelemahan massal, saham Microsoft justru merangkak naik 3,1 persen. Hal ini terjadi setelah Pershing Square, hedge fund milik Bill Ackman, mengumumkan kepemilikan saham baru di perusahaan teknologi tersebut.
Kenaikan juga dialami DexCom sebesar 6,6 persen setelah mengumumkan restrukturisasi komite dewan direksi bersama Elliott Investment Management. Namun, saham Ford Motor Company jatuh 7,5 persen setelah sempat mengalami reli dalam dua hari terakhir.
Faktor Geopolitik dan Transisi The Fed
Sentimen negatif pasar diperparah oleh minimnya hasil nyata dari pertemuan Presiden Trump dengan Presiden China Xi Jinping. Diskusi tersebut dinilai belum memberikan kemajuan berarti terkait konflik Iran maupun persoalan dagang bilateral.
Managing Partner Keator Group, Matthew Keator, menyebutkan bahwa pelaku pasar sebenarnya menaruh harapan besar pada komitmen dari pertemuan tingkat tinggi tersebut.
"Pasar sebenarnya berharap ada komitmen besar dari pertemuan tersebut. Namun hasilnya lebih banyak dipandang sebagai upaya membuka kembali komunikasi antara Washington dan Beijing," kata Matthew Keator.
Selain itu, pasar sedang memantau transisi kepemimpinan di bank sentral AS. Hari Jumat menjadi masa terakhir Jerome Powell menjabat sebagai Ketua The Fed sebelum digantikan oleh Kevin Warsh yang diprediksi akan menghadapi tekanan kenaikan bunga akibat dampak perang Iran.
Secara keseluruhan, volume transaksi di bursa AS meningkat hingga 19,32 miliar saham. Angka ini berada di atas rata-rata perdagangan harian yang biasanya berkisar di angka 18,13 miliar saham.