Indeks-indeks saham di Wall Street mencatatkan penguatan secara bersamaan pada penutupan perdagangan Rabu (27/5/2026). Dilansir dari Investor Daily, indeks Dow Jones berhasil memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) untuk posisi penutupan terbaru.
Apresiasi di bursa saham Amerika Serikat ini terjadi seiring dengan melemahnya harga minyak mentah dunia. Penurunan harga komoditas tersebut dipicu oleh munculnya optimisme terkait meredanya ketegangan konflik dengan Iran.
Data dari CNBC internasional menunjukkan indeks Dow Jones Industrial Average melesat 182,60 poin atau setara 0,36% menuju level 50.644,28. Nilai tersebut menjadi rekor ATH penutupan yang baru, setelah sebelumnya indeks saham unggulan ini sempat menyentuh rekor ATH intraday.
Sementara itu, indeks S&P 500 mengalami kenaikan tipis sebesar 0,02% untuk berakhir di level 7.520,36 yang juga menjadi rekor penutupan baru. Di sisi lain, indeks Nasdaq Composite terpantau menguat sebesar 0,07% ke posisi 26.674,73.
Sentimen positif pasar modal terdorong oleh kemerosotan harga minyak mentah AS sebesar 5,55% hingga ditutup pada level US$ 88,68 per barel. Koreksi ini terjadi pascamedia pemerintah Iran mengabarkan bahwa Teheran berkomitmen mengembalikan kelancaran lalu lintas dagang di Selat Hormuz ke kondisi sebelum perang dalam kurun satu bulan.
Kendati demikian, pihak Gedung Putih segera merespons kabar tersebut dengan mengeluarkan bantahan. Pemerintah Amerika Serikat menyebut laporan komitmen dari pihak Teheran itu sebagai sebuah rekayasa total.
Di pasar ekuitas, tren kenaikan agresif pada saham-saham sektor semikonduktor dilaporkan mulai kehabisan tenaga. Saham Micron Technology yang pada hari sebelumnya sempat melonjak di atas 19% hingga menembus kapitalisasi pasar US$ 1 triliun untuk pertama kali, ditutup menguat terbatas 3,6%.
Kondisi serupa menimpa saham Intel dan Qualcomm yang masing-masing mengalami koreksi sebesar 1% dan 6%. Padahal, kedua saham produsen chip tersebut baru saja membukukan peningkatan nilai yang signifikan pada perdagangan hari Selasa.
Siklus reli saham teknologi pembuat chip ini awalnya digerakkan oleh laporan optimistis dari UBS. Lembaga finansial tersebut memproyeksikan harga saham Micron masih berpeluang melonjak hingga lebih dari dua kali lipat dari posisi saat ini.
Analis UBS melihat tingginya permintaan terhadap teknologi kecerdasan buatan atau AI akan terus menyokong kontrak bisnis jangka panjang bagi para produsen memori. Antusiasme terhadap industri ini juga sempat mendongkrak valuasi produsen asal Korea Selatan, SK Hynix, hingga ikut menembus kapitalisasi pasar US$ 1 triliun.
Peringatan Risiko Valuasi
Meskipun tren kecerdasan buatan tengah berada di atas angin, sejumlah analis mulai menyuarakan kewaspadaan terkait nilai valuasi yang beredar di pasar saat ini.
Chief Market Strategist Great Valley Advisor Group, Eric Parnell, memberikan peringatan bahwa valuasi pada saham-saham sektor semikonduktor kini sudah berada di level yang terlalu tinggi.
"Dampak transformasional AI memang sangat besar dalam beberapa tahun mendatang, tetapi valuasi banyak saham semikonduktor saat ini sudah terlalu panas dan bergerak terlalu jauh," ujar Parnell.
Parnell menambahkan bahwa catatan sejarah pasar modal membuktikan situasi lonjakan besar atau booming pada saham chip umumnya akan diikuti oleh fase koreksi yang mendalam. Sepanjang tahun 2026 berjalan, saham Micron dan Intel tercatat telah mengalami kenaikan nilai hingga lebih dari tiga kali lipat.
Untuk sektor perbankan, saham JPMorgan Chase mencatatkan penurunan sebesar 2%. Koreksi ini terjadi setelah CEO Jamie Dimon mengumumkan rencana perseroan yang berpotensi mengalokasikan dana hingga US$ 20 miliar demi melancarkan aksi akuisisi dalam beberapa tahun mendatang.