Indeks Wall Street Melemah Tajam Akibat Aksi Ambil Untung Saham Teknologi

Indeks Wall Street Melemah Tajam Akibat Aksi Ambil Untung Saham Teknologi
Foto: Ilustrasi Indeks Wall Street Melemah Tajam Akibat Aksi Ambil Untung Saham Teknologi.

Indeks utama di bursa saham Wall Street mencatat penurunan tajam pada penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026). Kemerosotan ini didorong oleh aksi ambil untung pada saham sektor teknologi, lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, serta ketidakpuasan pasar terhadap hasil pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping.

Berdasarkan data yang dilansir dari Investor Daily, indeks S&P 500 terkoreksi 1,24% menuju level 7.408,50, sementara Nasdaq Composite jatuh hingga 1,54% ke posisi 26.225,14. Indeks Dow Jones Industrial Average juga mengalami penyusutan sebesar 537,29 poin atau 1,07% sehingga berakhir di level 49.526,17.

Sektor teknologi yang sebelumnya memimpin penguatan akibat antusiasme kecerdasan buatan justru menjadi penekan utama pasar. Saham Intel merosot lebih dari 6%, diikuti oleh Advanced Micro Devices dan Micron Technology yang masing-masing anjlok 5,7% serta 6,6%. Penurunan ini juga menimpa NVIDIA sebesar 4,4% dan Cerebras Systems yang ambruk 10% setelah sempat melonjak sehari sebelumnya.

Analis Vital Knowledge memberikan penilaian terhadap kondisi pasar saat ini di tengah tingginya reli saham teknologi. Ia menggarisbawahi kerentanan posisi saham tersebut setelah mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

"reli saham teknologi dalam beberapa pekan terakhir sudah terlalu tinggi sehingga rentan terkena aksi profit taking." nilai Adam Crisafulli, Analis Vital Knowledge.

Berbeda dengan tren sektornya, saham Microsoft justru menguat 3% setelah adanya laporan investasi dari pihak eksternal. Namun, sentimen positif ini teredam oleh kenaikan yield Treasury tenor 30 tahun yang menembus level 5,1% seiring memanasnya data inflasi dan kenaikan harga minyak dunia.

Di pasar komoditas, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak 4,2% ke level US$ 105,42 per barel, sementara minyak Brent naik 3,35% menjadi US$ 109,26 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh sikap tegas pemerintah Amerika Serikat terhadap situasi politik di Timur Tengah.

"lebih sabar lagi" ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Sentimen negatif juga diperparah oleh hasil pertemuan diplomatik antara Amerika Serikat dan China yang dianggap kurang memberikan terobosan besar bagi kepastian ekonomi global. Saham Boeing turut merasakan dampak negatif dengan penurunan 3,8% karena volume pembelian pesawat oleh China dinilai tidak memenuhi ekspektasi pasar.

Artikel terkait

Rekomendasi