Visa Indonesia Dorong Pertumbuhan Ekonomi Digital Lewat Tiga Strategi

Visa Indonesia Dorong Pertumbuhan Ekonomi Digital Lewat Tiga Strategi
Foto: Ilustrasi Visa Indonesia Dorong Pertumbuhan Ekonomi Digital Lewat Tiga Strategi.

Visa memprioritaskan pembayaran digital sebagai infrastruktur utama guna menyokong pertumbuhan ekonomi digital nasional sepanjang 2026. Dikutip dari Investortrust, perusahaan global ini memfokuskan strateginya pada penguatan ekosistem secara menyeluruh, ekspansi kemitraan, serta investasi pada generasi muda.

ÔÇ£Visa melihat bahwa pembayaran digital merupakan infrastruktur penting bagi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Oleh karena itu, pada 2026, fokus kami diarahkan pada penguatan ekosistem secara menyeluruh. Mulai dari perluasan akses dan kolaborasi hingga penguatan kepercayaan, agar peningkatan aktivitas transaksi dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas dan berkelanjutan,ÔÇØ kata Country Manager Visa Indonesia Vira Widiyasari dalam editor luncheon, di Jakarta, Jumat (6/2/2026).

Visa memperkuat keterlibatan pada segmen konsumen muda dengan menyasar berbagai komunitas gaya hidup. Sektor yang didekati meliputi komunitas olahraga, game, musik, fesyen, hingga K-pop. Langkah ini diambil guna mengubah aktivitas kegemaran generasi muda menjadi kebiasaan bertransaksi digital.

Perwujudan investasi tersebut dilakukan melalui dukungan pada berbagai acara nasional maupun internasional di Indonesia. Pada sektor gaming dan esports, Visa bertindak sebagai Official Payment Partner dalam ajang Mobile Legend: Bang Bang (MLBB) M7 World Championship di Jakarta.

ÔÇ£Melalui partisipasi ini, Visa pun mendukung komunitas gaming yang paling diminati di Indonesia,ÔÇØ katanya.

Dukungan lain diberikan pada sektor hiburan dan olahraga melalui sponsor untuk MAMA awards. Visa juga menjadi sponsor utama untuk pergelaran Maybank Marathon di Bali serta Piala Dunia FIFA.

Kolaborasi Strategis dengan Bank Pembangunan Daerah

Visa Indonesia memperluas jaringan lewat kemitraan bersama Bank Pembangunan Daerah (BPD). Kolaborasi ini ditujukan untuk mendongkrak daya saing bank daerah melalui integrasi jaringan pembayaran global Visa. Nasabah di daerah kini dapat melangsungkan transaksi domestik maupun internasional secara aman.

Langkah ekspansi ke berbagai provinsi dilakukan karena digitalisasi di wilayah Jakarta dan kota-kota besar lainnya dinilai telah matang. Visa berupaya mendorong BPD menjadi pintu gerbang utama untuk layanan keuangan digital di daerah.

ÔÇ£Bukan hanya di Jakarta atau kota tingkat dua seperti Surabaya yang digitalisasinya sudah maju, tapi menjangkau lebih banyak provinsi,ÔÇØ katanya.

Kerja sama teranyar disepakati bersama Bank Jakarta pada Januari 2026. Kemitraan ini melengkapi kolaborasi yang sebelumnya telah terjalin bersama Bank BJB dan Bank Sumsel Babel. Kemitraan dengan BPD lain akan terus diperluas untuk mendorong inklusi keuangan daerah.

ÔÇ£Kami terus membuka peluang untuk menambah dan meningkatkan kolaborasi dengan mitra BPD di seluruh Indonesia,ÔÇØ ungkapnya.

Melalui rangkaian inisiatif tersebut, Indonesia diposisikan sebagai bagian penting dalam ekosistem pembayaran global. Infrastruktur yang kokoh diharapkan mampu menopang ekonomi digital dalam jangka panjang.

ÔÇ£Pada akhirnya, tujuan kami adalah memastikan seluruh transaksi, baik di kota besar maupun daerah, berjalan aman, lancar, dan terhubung ke jaringan global, sehingga setiap orang di Indonesia dapat berpartisipasi penuh dalam ekonomi digital yang semakin tanpa batas,ÔÇØ ujar Vira.

Sinergi dengan Sektor Finansial dan Fintech

Akselerasi pembayaran nontunai juga ditempuh lewat kemitraan dengan pelaku industri keuangan domestik. Visa berkolaborasi dalam penerbitan kartu debit co-branding bersama Bank Jago, serta menjalin kemitraan dengan perusahaan fintech seperti Xendit dan Yap!.

ÔÇ£Bank Jago telah mengeluarkan kartu debit Visa dengan co branding. Kami juga ada kerja sama dengan fintech seperti Xendit dan Yap!,ÔÇØ ujar Vira.

Potensi pertumbuhan sistem pembayaran nontunai di Indonesia dinilai masih sangat besar lantaran penggunaan uang tunai di masyarakat masih dominan.

Vira menegaskan bahwa Visa hadir bukan untuk berkompetisi dengan instrumen pembayaran domestik yang sudah berjalan, termasuk Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

ÔÇ£Visa tidak berkompetisi dengan QRIS. Kami justru melihat berbagai instrumen pembayaran dapat saling melengkapi dalam membangun ekosistem pembayaran yang inklusif dan efisien,ÔÇØ katanya.

Sinergi antara jaringan global, perbankan, dan sektor fintech dipandang sebagai kunci utama untuk mempercepat digitalisasi sistem pembayaran nasional.

Artikel terkait

Rekomendasi