Dunia akademik tanah air sedang diguncang kabar tak sedap terkait dugaan skandal pemalsuan riset berskala internasional. Sejumlah oknum peneliti asal Indonesia diduga kuat melakukan manipulasi data dalam konferensi ilmiah bergengsi di Kopenhagen, Denmark.
Kabar mengejutkan ini pertama kali mencuat melalui unggahan akun Threads milik Ida Bagus Mandhara Brasika yang kemudian viral di berbagai platform media sosial. Kasus ini bermula pada ajang ISPPD 2024, sebuah pertemuan internasional para ahli penyakit Pneumonia dari seluruh penjuru dunia.
Dugaan Manipulasi Identitas dan Data AI
Dalam keterangannya, Mandhara menyebutkan bahwa oknum tersebut melakukan aksi pemalsuan yang cukup berani di hadapan ribuan ilmuwan. Para pelaku diduga memanipulasi identitas agar terlihat sebagai orang yang berbeda saat mempresentasikan riset mereka.
Modus yang dilakukan pun tergolong unik namun janggal, yakni dengan mengubah tampilan hijab dan mengganti kartu identitas (nametag) berulang kali. Aksi ini diduga dilakukan demi mengejar kuota presentasi atau demi mendapatkan dana hibah perjalanan (Travel Grant).
Selain identitas personal, substansi materi riset yang dipaparkan juga menuai kecurigaan besar dari para peserta lainnya. Data penelitian yang mencakup wilayah geografis sangat luas diduga kuat merupakan hasil fabrikasi atau dibuat-buat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Berikut adalah beberapa poin kejanggalan utama yang ditemukan dalam riset tersebut:
Daftar indikasi kepalsuan riset yang ditemukan :
- Data penelitian diduga sepenuhnya hasil buatan (generate) AI, baik dalam bentuk tulisan maupun visual gambar.
- Cakupan lokasi riset meliputi wilayah ekstrem seperti dataran tinggi Ethiopia hingga Andes di Peru tanpa adanya kolaborator lokal.
- Tidak ditemukannya dokumen persetujuan etik (ethical clearance) yang jelas dalam prosedur penelitian global tersebut.
- Penggunaan nama lembaga atau afiliasi fiktif yang tidak terdaftar secara resmi di Indonesia maupun internasional.
Penjelasan di atas menunjukkan betapa rapinya skandal ini disusun hingga sempat lolos ke tahap presentasi internasional. Hilangnya kolaborator lokal di negara-negara lokasi riset menjadi bukti paling kuat adanya ketidakkonsistenan data yang dipaparkan.
Pencatutan Lembaga Fiktif dan Dampak Nama Baik
Mandhara merinci beberapa nama lembaga yang dicantumkan pelaku, seperti AI-BioMedicine Research Group dan IMCDS-BioMed Research Foundation. Setelah ditelusuri, institusi-institusi yang berbasis di Jakarta tersebut tidak memiliki rekam jejak maupun kantor fisik yang nyata.
Kasus ini mencatut tiga nama individu yang kini menjadi sorotan tajam publik, yaitu Prihatini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti. Skandal ini dianggap telah mencoreng reputasi peneliti Indonesia di mata komunitas sains internasional karena dianggap melakukan penipuan terorganisir.
Berikut adalah ringkasan fakta terkait temuan kejanggalan dalam konferensi ISPPD tersebut:
| Kategori Temuan | Detail Kejanggalan |
|---|---|
| Lokasi Penelitian | Luar negeri (Andes, Ethiopia, Guatemala, dsb) tanpa izin lokal. |
| Afiliasi Peneliti | Lembaga fiktif (AI-BioMedicine Research Group). |
| Metodologi | Diduga fabrikasi total menggunakan AI generator. |
| Motif Dugaan | Mendapatkan Travel Grant dan pengakuan akademik fiktif. |
Data dalam tabel tersebut merangkum mengapa kasus ini disebut sebagai skandal yang merusak nama baik bangsa di forum ilmiah. Penggunaan sistem peninjauan anonim (Blind Review) oleh panitia diduga menjadi celah bagi abstrak riset fiktif ini untuk lolos seleksi awal.
Hingga saat ini, unggahan tersebut terus mendapat respons negatif dari warganet yang menyayangkan tindakan tidak terpuji tersebut. Integritas akademik menjadi isu utama yang disorot, mengingat dampaknya yang luas terhadap kepercayaan dunia terhadap periset asal Indonesia lainnya.