Usaha Tempe Rumahan Cilincing Hasilkan Omzet Rp51 Juta per Bulan

Usaha Tempe Rumahan Cilincing Hasilkan Omzet Rp51 Juta per Bulan
Foto: Ilustrasi Usaha Tempe Rumahan Cilincing Hasilkan Omzet Rp51 Juta per Bulan.

Seorang perajin tempe di Cilincing, Jakarta Utara, bernama Anto (38), berhasil mempertahankan bisnis keluarga sejak 1981 dengan capaian omzet harian sebesar Rp1,7 juta pada Jumat (24/4/2026). Dilansir dari Megapolitan, usaha yang dikelola dari garasi rumahnya ini mampu memproduksi ratusan kilogram kedelai setiap hari.

Produksi tempe di lokasi tersebut mencapai 40 hingga 60 lonjor dengan panjang masing-masing 2,4 meter. Anto memanfaatkan 100 kilogram kacang kedelai setiap harinya untuk memenuhi permintaan pedagang pasar dan pembeli di sekitar kediamannya guna menyokong ekonomi keluarga.

Keputusan Anto untuk meneruskan estafet usaha orang tuanya diambil setelah ia bekerja selama satu dekade sebagai buruh pabrik. Ia merasa profesi sebagai perajin memberikan kebebasan yang tidak didapatkan saat bekerja di bawah tekanan atasan di perusahaan formal.

ÔÇ£Selain itu, saya lebih nyaman menjadi perajin tempe dibandingkan kerja di pabrik, karena lebih bebas, tidak ada tekanan atasan,ÔÇØ kata Anto.

Anto menilai pengalamannya selama sepuluh tahun menjadi buruh tidak memberikan perkembangan signifikan dalam kualitas hidupnya. Hal ini memperkuat tekadnya untuk fokus mengembangkan industri rumah tangga tersebut secara mandiri.

ÔÇ£Saya kerja di pabrik sudah sekian lama 10 tahun, ya segitu-gitu aja lah,ÔÇØ ungkap Anto.

Keberhasilan usaha ini juga berdampak pada penciptaan lapangan kerja bagi perantau asal Pemalang, Jawa Tengah. Anto memberikan fasilitas tempat tinggal serta upah harian dan bulanan bagi karyawannya guna memastikan kelancaran proses produksi harian.

ÔÇ£Per harinya omzetnya bisa mencapai Rp 1,7 juta,ÔÇØ kata Anto.

Selain memberikan gaji bulanan sebesar Rp1,5 juta, Anto mengalokasikan uang harian Rp150.000 untuk kebutuhan operasional pekerjanya. Dukungan tenaga kerja ini memungkinkan Anto untuk lebih berkonsentrasi pada strategi penjualan dan ekspansi pasar.

ÔÇ£Selain itu, saya juga menyediakan tempat tinggal,ÔÇØ ujar Anto.

Meski mencatatkan pendapatan yang stabil, operasional usaha tempe ini sangat bergantung pada kondisi cuaca di Jakarta. Perubahan iklim yang tidak menentu kerap menghambat proses peragian dan pertumbuhan jamur pada kedelai yang telah diolah.

ÔÇ£Kalau hujan terus, tempe itu susah untuk peragian, jamur jadi susah tumbuh,ÔÇØ jelas Anto.

Tantangan lain yang dihadapi adalah kenaikan harga bahan baku kedelai yang melonjak dari Rp9.500 menjadi Rp10.800 per kilogram. Kondisi ini diperparah dengan naiknya harga plastik kemasan yang meningkatkan total biaya pengeluaran bulanan usaha tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi