UNJ Gelar Riset Expo dan LPPM Award 2026

UNJ Gelar Riset Expo dan LPPM Award 2026
Foto: Ilustrasi UNJ Gelar Riset Expo dan LPPM Award 2026.

Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menggelar kegiatan Riset Expo dan LPPM UNJ Award 2026 di Aula Latief Hendraningrat, Gedung Raden Dewi Sartika, Kampus A UNJ pada Selasa, 19 Mei 2026.

Acara yang mengusung tema globalisasi riset tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis ke-62 UNJ, seperti dilansir dari Media Indonesia.

Ketua LPPM UNJ, Prof. Iwan Sugihartono, menjelaskan bahwa riset di era global saat ini dituntut untuk menghasilkan publikasi ilmiah sekaligus memberikan solusi nyata bagi masyarakat dan industri.

"Kegiatan Riset Expo 2026 ini diikuti oleh sembilan stand yang terdiri dari delapan fakultas dan satu Sekolah Pascasarjana. Selain itu, terdapat partisipasi booth dari LPPM, Direktorat Inovasi, Badan Pengelola Usaha (BPU), serta keterlimatan kampus mitra, yakni Universitas Terbuka (UT) dan UPN Veteran Jakarta," kata Prof. Iwan.

Pihak LPPM memberikan apresiasi kepada sejumlah mitra industri yang mendukung acara, seperti PT Pegadaian, PT Phapros, Radio GCD FM, dan PT Rejoso Manis Indo. Pemberian penghargaan LPPM Award ditujukan untuk memacu semangat kompetisi akademik dalam beberapa kategori termasuk jumlah publikasi terindeks Scopus, H-index, sitasi, Hak Kekayaan Intelektual (HKI)/paten, hingga tata kelola jurnal.

Sekretaris Universitas, Prof. Suyono, yang hadir mewakili Rektor UNJ memberikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi untuk menegaskan esensi dari tema yang diangkat ditengah ekosistem global.

"Globalisasi riset bukan sekadar meningkatkan kerja sama luar negeri atau mengejar indeks internasional. Globalisasi riset adalah bagaimana hasil penelitian kita memiliki kualitas yang diakui secara global sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat," tegas Prof. Suyono.

Prof. Suyono menambahkan bahwa UNJ berpotensi menjadi universitas bereputasi internasional melalui kolaborasi lintas disiplin, hilirisasi inovasi, dan kontribusi penyelesaian persoalan dunia. Ia juga memberikan motivasi kepada para peneliti untuk terus berkarya serta mengucapkan selamat kepada para peraih penghargaan.

Narasumber utama dari Kemdiktisaintek, Yudi Darma, kemudian memaparkan materi mengenai akselerasi riset perguruan tinggi dan menantang pihak kampus untuk menyelaraskan agenda penelitian dengan potensi riil Indonesia.

Yudi menekankan pentingnya menjembatani kesenjangan antara riset akademik dan kebutuhan pasar global mengingat capaian difusi pengetahuan Indonesia masih perlu ditingkatkan meski menduduki peringkat ke-55 dalam Global Innovation Index (GII) 2025.

"Diperlukan transformasi radikal dari sekadar riset berbasis publikasi menuju riset yang memberikan nilai tambah ekonomi dan ekspor teknologi tinggi," jelas Yudi Darma, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kemdiktisaintek.

Menurut pemaparan Yudi, Indonesia saat ini mendominasi 33,9 persen publikasi jurnal terindeks Scopus di Asia Tenggara, namun kualitas pada klaster STEM baru memiliki 2 jurnal Q1 dibandingkan klaster Sosial Humaniora yang memiliki 10 jurnal Q1. Pihak perguruan tinggi didorong untuk mendukung 9 Sektor Investasi Prioritas Republik Indonesia melalui inovasi pada komoditas strategis seperti mineral kritis, bioekonomi, blue economy, serta ketahanan energi.

"Pemanfaatan sains dan teknologi membuka peluang emas bagi perguruan tinggi untuk memimpin riset terapan, menciptakan teknologi substitusi impor, dan menyediakan talenta terampil. Ini adalah bagian dari peta jalan nasional untuk mengonversi kekayaan alam menjadi riset berdaya jual tinggi, yang diproyeksikan akan memberikan dampak ekonomi makro secara masif pada tahun 2040," pungkas Yudi Darma.

Artikel terkait

Rekomendasi