Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pakaian wanita di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menyatakan kekecewaan terhadap isi pidato Presiden Prabowo Subianto pada Selasa (19/5). Pernyataan presiden yang menyebut warga desa tidak terkena dampak langsung dari pelemahan kurs rupiah dinilai sangat keliru dan jauh dari realitas di lapangan.
Kondisi nyata tersebut dirasakan langsung oleh M. David Ainul Ridho, seorang pelaku UMKM busana konveksi di Desa Getas, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, sebagaimana dilansir dari Media Indonesia. Meski masyarakat pedesaan tidak bertransaksi dengan mata uang asing, lonjakan kurs dolar AS tetap memukul operasional bisnis akibat kenaikan harga bahan baku impor.
"Kalau dibilang orang desa enggak terdampak dolar, ya jelas kami terdampak. Saya usaha di desa, produksi di desa, pekerjanya warga desa semua. Tapi harga kain, plastik, kancing, semuanya naik," ujar David, Selasa (19/5).
Kenaikan harga komponen produksi konveksi memaksa pelaku usaha memutar otak karena tidak diiringi dengan stabilitas daya beli masyarakat. Situasi pasar yang lesu membuat penyesuaian harga jual produk menjadi sangat berisiko bagi kelangsungan usaha kecil.
"Sekarang tantangannya berat. Harga bahan naik, biaya produksi naik, tapi daya beli masyarakat justru turun. Mau menaikkan harga terlalu tinggi takut pembeli lari," ucap David.
Bisnis pakaian wanita ini dirintis David secara otodidak sejak 2015 dengan modal awal sekitar Rp40 juta melalui pemasaran mandiri di Facebook. Pengusaha konveksi tersebut kemudian memanfaatkan platform Shopee pada 2016 untuk memperluas jangkauan pasar secara online dan offline ke berbagai wilayah.
"Awalnya ya belajar sendiri. Enggak punya mentor. Semua otodidak dan saya sendiri sebelum mandiri pernah bekerja sebagai buruh konveksi pada seorang juragan," terang David.
Volume pengiriman toko online miliknya sempat mengalami lonjakan drastis dari 20 hingga 30 resi per hari menjadi sekitar 3.000 transaksi harian selama masa pandemi Covid-19 periode 2019-2021. Pakaian atasan dijual seharga Rp65 ribu, bawahan Rp70 ribu, dan long tunic muslim Rp86 ribu sebelum diskon.
"Jadi waktu pandemi orang belanja online terus. Trafiknya tinggi sekali dan saya pada saat itu justru mendulang pesanan banyak sekali," ungkapnya.
Pertumbuhan usaha konveksi rumahan ini ditopang oleh sistem pencairan saldo harian serta program promosi berkala yang disediakan oleh pihak marketplace. Promosi tersebut efektif dalam melipatgandakan jumlah kunjungan calon pembeli ke toko digitalnya.
"Kalau ikut campaign tertentu, trafik bisa naik dua kali lipat dibanding biasanya," bebernya.
Keberhasilan usaha konveksi ini mampu mengubah taraf hidup keluarga David hingga dapat membiayai ibadah haji kedua orang tuanya dan menjadi tumpuan bagi 80 warga sekitar yang bekerja memotong pola, menjahit, hingga mengemas barang. Penurunan omzet saat ini memaksa pelaku usaha fokus pada strategi bertahan demi melindungi nasib para pekerjanya.
"Kondisi sekarang itu bukan bicara untung besar lagi. Bisa bertahan saja sudah syukur," katanya pelan.
Tantangan operasional di sektor kerajinan pakaian semakin berat akibat fluktuasi trafik penjualan dan risiko eksternal yang dinamis di pasar digital. Pengusaha busana asal Pekalongan ini bahkan mengaku sempat mengalami kerugian besar akibat tindakan penipuan dari pihak pemesan barang.
"Kami memang enggak pegang dolar. Tapi barang-barang yang kami beli ikut naik karena dolar. Jadi ya tetap kena dampaknya," jelas David seraya menambahkan meski penuh tantangan, tetap memilih tetap bertahan.