UEA Percepat Pipa Minyak Baru Imbas Konflik Selat Hormuz

UEA Percepat Pipa Minyak Baru Imbas Konflik Selat Hormuz
Foto: Ilustrasi UEA Percepat Pipa Minyak Baru Imbas Konflik Selat Hormuz.

Uni Emirat Arab mempercepat pembangunan infrastruktur ekspor minyak baru untuk menghindari Selat Hormuz yang tengah diblokade oleh Iran, Kamis (21/5/2026). Langkah strategis ini diambil demi mengamankan jalur distribusi energi menyusul konflik bersenjata yang mengganggu pasokan global.

Proyek jalur pipa minyak kedua tersebut saat ini pembangunannya telah mencapai hampir 50 persen, seperti dilansir dari Money. Infrastruktur baru yang ditargetkan beroperasi pada 2027 ini dirancang untuk menggandakan kapasitas ekspor minyak melalui Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman.

Pihak Abu Dhabi National Oil Company mengonfirmasi bahwa penutupan jalur laut utama tersebut memicu hilangnya lebih dari 1 miliar barel minyak. Kondisi ini diperparah dengan hilangnya hampir 100 juta barel minyak tambahan pada setiap pekan selama jalur strategis tersebut belum dibuka kembali oleh pihak Iran.

"Sekarang terlalu banyak energi dunia yang masih bergerak melalui terlalu sedikit titik jalur strategis," kata Sultan Ahmed Al Jaber, Chief Executive Officer Abu Dhabi National Oil Company.

Krisis distribusi ini bermula sejak awal Maret ketika Iran memblokade Selat Hormuz sebagai respons atas serangan udara besar-besaran oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Serangan udara tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah petinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

"Ini bukan sekadar persoalan ekonomi," ujar Sultan Ahmed Al Jaber, Chief Executive Officer Abu Dhabi National Oil Company.

Perusahaan energi tersebut memproyeksikan proses pemulihan pasokan tidak akan berlangsung cepat meski konflik berakhir dalam waktu dekat. Pengiriman minyak membutuhkan waktu sedikitnya empat bulan untuk pulih ke tingkat 80 persen, sedangkan normalisasi total baru tercapai pada paruh pertama 2027.

"Situasi ini menciptakan preseden berbahaya ketika satu negara dapat menyandera jalur pelayaran paling penting di dunia," kata Sultan Ahmed Al Jaber, Chief Executive Officer Abu Dhabi National Oil Company.

Ketegangan geopolitik ini memicu prediksi perubahan peta logistik jangka panjang di kawasan Teluk, di mana ketergantungan terhadap satu jalur pelayaran tunggal dipastikan bakal dikurangi. Amerika Serikat menilai bahwa tindakan blokade ini akan membuat kepentingan strategis jalur perairan tersebut menurun secara bertahap.

"Ini adalah kartu yang hanya bisa dimainkan sekali," kata Chris Wright, Menteri Energi Amerika Serikat.

Saat ini, sebagian ekspor minyak Uni Emirat Arab telah dialihkan lewat pipa eksisting ke Fujairah yang memiliki kapasitas maksimal 1,8 juta barel per hari. Pembangunan jalur alternatif terus diprioritaskan agar stabilitas pasokan energi global dari negara-negara Teluk tetap terjaga tanpa melewati titik rawan konflik.

"Kami akan melihat berkurangnya arti penting Selat Hormuz, tetapi bukan berkurangnya arti penting produksi dan pasokan energi negara-negara tersebut," ujar Chris Wright, Menteri Energi Amerika Serikat.

Artikel terkait

Rekomendasi