PT Tugureasuransi Indonesia (Tugure) tengah melakukan kajian mendalam terkait rencana penggabungan entitas reasuransi di bawah ekosistem SWF Danantara, meskipun hingga Kamis (29/4/2026) belum ada keputusan final mengenai keterlibatan perseroan dalam proses tersebut.
Kondisi industri reasuransi nasional yang sedang menghadapi tekanan menjadi latar belakang munculnya wacana restrukturisasi melalui Danantara dan Indonesia Financial Group (IFG). Dilansir dari Finansial, langkah peleburan ini bertujuan untuk memperkuat posisi perusahaan payung milik negara.
Direktur Keuangan Tugure, Dradjat Irwansyah, menjelaskan bahwa komunikasi intensif terus dilakukan bersama pihak-pihak terkait untuk memetakan masa depan industri yang tengah melesu.
"Kita sama-sama tahu kalau industri reasuransi sedang tidak baik-baik saja. Kami sudah beberapa kali melakukan pertemuan dengan Danantara dan BPUI untuk membahas hal ini," ujar Dradjat, Direktur Keuangan Tugure.
Perseroan menekankan bahwa struktur kepemilikan saham Tugure berbeda dengan entitas lain seperti Nasional Re atau Indonesia Re karena adanya skema pengendalian bersama atau joint control. Saat ini, mayoritas saham sebesar 50,7 persen dikuasai afiliasi BUMN melalui Tugu Pratama Indonesia dan Tugu Pratama Interindo, sedangkan 49,3 persen sisanya dimiliki PT Asriland.
"Kedua pemegang saham ini merupakan pengendali. Jadi secara prinsip ini joint control," kata Dradjat, Direktur Keuangan Tugure.
Berdasarkan regulasi Undang-Undang Perseroan Terbatas, setiap aksi korporasi besar termasuk merger memerlukan restu minimal 75 persen suara pemegang saham. Hal ini membuat keputusan penggabungan tidak dapat ditetapkan tanpa kesepakatan kedua belah pihak pengendali.
"Artinya, kedua pemegang saham harus menyatakan persetujuan terlebih dahulu sebelum ada tindakan merger," ujarnya, Direktur Keuangan Tugure.
Pihak Danantara melalui BPUI sejauh ini masih menempatkan Tugure dalam tahap evaluasi bersama untuk mencari opsi restrukturisasi terbaik bagi ekosistem asuransi negara.
"Mereka secara eksplisit menyampaikan belum ada keputusan untuk mengikutsertakan Tugure dalam proses merger. Saat ini masih dalam tahap kajian," katanya, Direktur Keuangan Tugure.
Dradjat membantah anggapan bahwa merger tersebut sudah memasuki tahap pelaksanaan teknis. Ia menegaskan posisi Tugure saat ini hanyalah sebagai partisipan aktif dalam proses pemetaan dan evaluasi yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan.
"Prematur kalau disampaikan bahwa proses merger ini sudah berjalan. Posisi kami masih dalam proses kajian bersama," ujar Dradjat, Direktur Keuangan Tugure.
Secara fundamental, Tugure mencatatkan kinerja positif dengan laba bersih Rp110 miliar pada laporan keuangan audited 31 Desember 2025. Capaian ini ditopang oleh pendapatan premi jasa asuransi sebesar Rp192,2 miliar serta hasil investasi yang menyentuh angka Rp254,4 miliar.
Ekuitas perusahaan kini telah mencapai Rp1,5 triliun, memenuhi standar modal minimum tahun 2026. Tugure menargetkan pertumbuhan organik agar ekuitas dapat menyentuh Rp2 triliun pada tahun 2028 demi mencapai kategori kapasitas permodalan KPPE 2.