Lanskap bisnis layanan purna jual otomotif di Indonesia mulai mengalami pergeseran signifikan menyusul penurunan dominasi penjualan kendaraan asal pabrikan Jepang. Fenomena ini memicu para pelaku diler untuk segera melakukan penyesuaian strategi operasional guna menghadapi persaingan dari merek-merek baru asal China.
Direktur Utama Trimegah Group, Lindawati Tandyo, menjelaskan bahwa besarnya populasi kendaraan Jepang selama ini memang menjadi penopang utama pendapatan sektor aftersales. Namun, penurunan angka penjualan yang sudah mulai terasa sejak tahun 2023 diprediksi akan menggerus pangsa pasar jasa servis tersebut secara perlahan, sebagaimana dilansir dari Otomotif.
"Aftersales memang mobil Jepang dari dulu populasinya banyak, namun kita pikir lama-lama kan akan turun karena penjualannya juga akan turun. Dari 2023 setelah covid itu sudah terasa, dan terus semakin turun," ucap Linda, di Wuhu, China, Rabu (29/4/2026).
Linda memberikan catatan kritis terhadap minimnya inovasi yang dilakukan oleh produsen Jepang di tengah gempuran tren teknologi baru. Hal ini dinilai menjadi salah satu faktor utama yang membuat konsumen mulai melirik alternatif kendaraan dari pabrikan negara lain.
"Kami juga melihat merek Jepang tidak ada pergerakan sama sekali, tidak ada model baru, fitur baru juga,ÔÇØ lanjut Linda.
Kelesuan pembaruan produk tersebut dianggap berdampak langsung pada pertumbuhan populasi kendaraan di masa depan. Di sisi lain, penetrasi kendaraan listrik (EV) dari merek China menghadirkan dinamika baru karena struktur mesin yang lebih sederhana memerlukan perawatan lebih sedikit dibandingkan mesin konvensional.
"Mobil listrik perawatannya memang minim, masukan untuk bengkel hampir tidak ada. Tetapi kan mobil China seperti Chery masih ada plug in hybrid tidak benar-benar nol,ÔÇØ kata Lindawati.
Lindawati menekankan bahwa peluang bisnis purna jual tetap terbuka melalui model Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) yang masih mengusung mesin pembakaran internal sebagai pendukung. Adaptasi infrastruktur bengkel dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia kini menjadi prioritas pelaku diler dalam menghadapi transisi menuju teknologi elektrifikasi.