Banyak orang Indonesia belakangan ini tertarik untuk tinggal di Bangkok. Di media sosial, topik mengenai kehidupan di Bangkok sedang ramai dibahas, termasuk biaya hidup, peluang kerja, transportasi umum, dan kualitas hidup yang dianggap lebih baik dibandingkan sejumlah kota besar di Asia Tenggara, termasuk Jakarta.
Sebagai pusat ekonomi Thailand, Bangkok memiliki banyak daya tarik yang membuat orang-orang tertarik untuk tinggal di sana. Berdasarkan data dari Department of Provincial Administration Thailand, populasi di Bangkok mencapai 5,4 juta jiwa pada tahun 2026. Namun, karena banyaknya pekerja yang datang setiap harinya, jumlah penduduk sebenarnya diperkirakan lebih tinggi.
Kemudahan Hidup di Bangkok:
Bangkok menawarkan kemudahan dalam banyak aspek kehidupan. Jele, seorang remaja berusia 17 tahun yang lahir di sana, mengatakan bahwa kota ini merupakan tempat yang nyaman dan modern untuk ditinggali. Transportasi umum yang terdiri dari jaringan kereta BTS dan MRT memungkinkan warga untuk bepergian dengan mudah tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi.
Perkembangan fasilitas bagi penyandang disabilitas juga menjadikannya lebih baik dibandingkan dengan daerah lain di Thailand. Menurut Khaophong, seorang penjual lotre yang menggunakan kursi roda, banyak penyandang disabilitas memilih tetap tinggal di Bangkok karena fasilitas publik di luar ibukota masih terbatas.
Selain itu, kuliner di Bangkok menjadi daya tarik lain. Torfhan, penduduk berusia 29 tahun, merasa Bangkok adalah tempat yang memudahkan pencarian makanan, bahkan saat pulang kerja larut malam. Ruang publik seperti taman kota juga terus dikembangkan untuk mendukung gaya hidup sehat warga Bangkok.
Kehadiran Ekspatriat di Bangkok:
Kesan positif tentang kehidupan di Bangkok juga datang dari para ekspatriat dan wisatawan yang pernah tinggal sementara. Brian, wisatawan dari Prancis, mengatakan bahwa ia sangat menikmati waktunya di Bangkok berkat cuaca cerah dan hangat. Seorang ekspatriat asal Jerman merasa kota ini menawarkan kenyamanan dan keamanan yang lebih baik dibanding beberapa kota lain.
Namun, ada sejumlah tantangan yang belum sepenuhnya teratasi. Kemacetan lalu lintas sering menjadi keluhan utama warga, sebagaimana disampaikan oleh Fueng, seorang pekerja kantoran berusia 25 tahun. Kemacetan juga dianggap memperburuk polusi udara, terutama saat musim kabut PM2.5 setiap tahun.
Selain itu, biaya hidup di Bangkok yang terus meningkat memberi tekanan ekonomi pada beberapa warga. Dalam beberapa tahun belakangan, harga sewa, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari mengalami kenaikan. Seorang penjual mi yang sudah tinggal selama 20 tahun di Bangkok mengungkapkan bahwa biaya hidup dan sewa tempat tinggal cukup tinggi.
Kenaikan harga bahan bakar juga turut memengaruhi biaya transportasi dan kebutuhan masyarakat. Meski demikian, peluang ekonomi yang besar di kota ini mendorong banyak orang untuk tetap bertahan. Banyak pendatang dari luar Bangkok datang mencari nafkah karena peluang kerja yang lebih luas tersedia di ibu kota.
Keputusan untuk pindah ke Bangkok sangat bergantung pada kebutuhan dan prioritas masing-masing individu. Namun, sebelum mengikuti tren "living in Bangkok" yang sedang populer, penting bagi siapa saja untuk melihat gambaran menyeluruh dari kehidupan di ibu kota Thailand ini.