Generasi Z mulai memopulerkan penggunaan "anxiety bag" atau tas pereda cemas sebagai alat bantu praktis untuk menangani serangan panik yang muncul tiba-tiba pada Rabu (15/4/2026). Tren yang viral di media sosial ini berisi berbagai peralatan sensorik untuk menenangkan sistem saraf pengguna.
Penggunaan kantong penenang ini menjadi respons atas meningkatnya gangguan kesehatan mental di kalangan anak muda. Dilansir dari Wolipop, tren ini muncul karena metode konvensional seperti terapi bicara dinilai tidak selalu bisa memberikan solusi cepat saat individu berada di lingkungan yang penuh stimulasi.
Survei Gallup tahun 2023 menunjukkan hampir separuh populasi berusia 12 hingga 26 tahun sering merasa cemas. Data terhadap 1.000 responden usia 18-26 tahun juga mengungkap bahwa 61 persen di antaranya memiliki gangguan kecemasan terdiagnosis, dengan 43 persen mengalami serangan panik bulanan.
Dr. Kyra Bobinet, seorang ahli neuroscience, menjelaskan bahwa menyimpan alat regulasi diri dalam jangkauan saat stres tinggi adalah langkah cerdas. Menurutnya, metode ini menciptakan sensasi fisik baru agar pikiran seseorang tidak sepenuhnya dikuasai oleh rasa cemas yang melanda secara mendadak.
Isi dari anxiety bag umumnya disesuaikan dengan kebutuhan individu, seperti minyak esensial lavender, permen rasa asam tajam, hingga headphone peredam suara. Pengguna seperti Stefany Staples memanfaatkan permen asam untuk memutus siklus kecemasan melalui rangsangan indra perasa yang kuat.
Psikolog klinis Dr. Jenny Martin menyatakan intervensi sensorik cepat seperti mengisap permen atau memegang es dapat menghentikan lonjakan sistem saraf. Benda-benda tersebut bekerja dengan cara mengalihkan perhatian dari pikiran negatif kembali ke tubuh dan momen saat ini.
"Semakin otak mengasosiasikan isi tas itu dengan rasa aman dan tenang, semakin efektif saat dibutuhkan," ujar Dr. MaryEllen Eller. Ia menyarankan agar setiap orang mencoba berbagai alat saat kondisi tenang untuk menemukan metode grounding yang paling cocok dengan pemicu kecemasannya.
Meskipun dinilai efektif sebagai pertolongan pertama, para ahli mengingatkan agar penggunaan tas ini tidak menimbulkan ketergantungan permanen. Psikiater Dr. Vinay Saranga menegaskan bahwa tujuan jangka panjang pengobatan tetaplah membangun kemampuan mengelola kecemasan tanpa bantuan alat eksternal.