Toyota Motor berencana memangkas produksi mobil di luar Jepang sebanyak 83.000 unit hingga November tahun ini akibat pelemahan permintaan dari konflik Timur Tengah, dilansir dari Suara berdasarkan laporan Nikkei Asia pekan ini.
Pengurangan volume pembuatan kendaraan global tersebut berpotensi berdampak pada operasional pabrik Toyota yang berlokasi di Indonesia dan Thailand. Langkah efisiensi ini diambil sebagai respons atas ketidakstabilan pasar internasional yang mengganggu rantai pasok ekspor ke wilayah konflik.
Sebelum kebijakan terbaru ini keluar, raksasa otomotif dunia tersebut telah memotong produksi sebesar 38.000 unit untuk periode Mei sampai November karena hambatan ekspor ke Timur Tengah. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi penyebab utama tersendatnya distribusi kendaraan ke kawasan tersebut.
Penurunan kapasitas manufaktur juga sudah terjadi di internal Jepang dengan pemangkasan hingga 40.000 unit pada Maret dan April lalu. Toyota menjadwalkan pengurangan tambahan sekitar 1.500 unit mobil antara Juni hingga September karena menyusutnya peminat pada beberapa model kendaraan tertentu.
Pihak manajemen Toyota pada pekan ini mulai mendistribusikan informasi pemotongan target manufaktur tersebut kepada para vendor penyedia komponen. Fasilitas perakitan yang mengalami penyesuaian operasional ini merupakan basis produksi yang menyuplai kendaraan untuk pasar Asia dan Timur Tengah.
Meskipun terjadi gejolak global, Toyota menetapkan target produksi total sebesar 10 juta unit mobil pada tahun 2026 yang menandakan kenaikan tipis 1 persen dari tahun sebelumnya. Perusahaan memproyeksikan perolehan laba bersih sebesar 3 triliun yen, atau mengalami penurunan sebesar 22 persen dibandingkan tahun lalu.
Proyeksi keuangan dan target manufaktur tersebut masih berpeluang mengalami revisi kembali di masa mendatang. Keberlanjutan pemangkasan operasional ini sangat bergantung pada perkembangan situasi konflik di Timur Tengah serta pergerakan harga minyak mentah dunia.