TK Inspirasi Indonesia: Cahaya Literasi di Tengah Kampung Pemulung

TK Inspirasi Indonesia: Cahaya Literasi di Tengah Kampung Pemulung
Foto: Ilustrasi TK Inspirasi Indonesia: Cahaya Literasi di Tengah Kampung Pemulung.

Di balik deretan bangunan padat dengan tumpukan rongsokan di Kelurahan Bintara Jaya, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi, berdiri sebuah ruang belajar sederhana yang menjadi harapan bagi puluhan anak dari keluarga pemulung dan pekerja serabutan.

Di tengah lingkungan yang dipenuhi karung-karung sampah, jalan tanah becek, serta aroma menyengat dari barang bekas, setiap pagi anak-anak kecil datang membawa tas mungil mereka menuju sebuah sekolah gratis bernama TK Inspirasi Indonesia. Sekolah itu berada di RT 003/RW 008, tak jauh dari aliran Kali Malang di perbatasan Bekasi dan Jakarta Timur. Bangunannya nyaris tak mencolok. Hanya sebuah ruangan sederhana berukuran sekitar 3x4 meter dengan kursi plastik warna-warni dan papan tulis ala kadarnya.

Di lingkungan yang mayoritas dihuni pemulung, buruh harian, asisten rumah tangga, dan pekerja serabutan itu, dulunya banyak anak-anak menghabiskan waktu bermain di sekitar tumpukan sampah tanpa aktivitas belajar yang jelas. Kini, suasana itu perlahan berubah. Setiap pagi, puluhan anak duduk rapi di ruang belajar sederhana untuk mengenal huruf, angka, membaca, menulis, hingga bernyanyi bersama.

"Sebenarnya bangunan ini milik ART saya. Dulunya masih bedeng dan ala kadarnya. Alhamdulillah sekarang sudah direnovasi, jadi lebih nyaman untuk anak-anak belajar," ujar pendiri TK Inspirasi Indonesia, Firda Budhiardjo, Tokoh Masyarakat.

Sekolah tersebut berdiri bukan dari program besar ataupun bantuan pemerintah, melainkan dari kepedulian pribadi Firda setelah melihat banyak anak usia dini di lingkungan itu belum tersentuh pendidikan. Saat pertama kali berkunjung ke rumah asisten rumah tangganya di wilayah Bintara Jaya pada 2017, Firda melihat anak-anak kecil hanya berkeliaran di sekitar permukiman tanpa kegiatan belajar. Pemandangan itu membekas di benaknya.

"Awalnya saya bukan mengajak anak-anaknya untuk bersekolah, tapi saya ingin anak-anak di sini setidaknya bisa membaca dan menulis," ujar Firda Budhiardjo, Tokoh Masyarakat.

Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan formal sebagai guru, Firda yang memiliki dasar ilmu psikologi memberanikan diri untuk memulai ruang belajar sederhana. Berbekal kemampuan baca, tulis, dan hitung yang ia pelajari sendiri, Firda mulai mengajar anak-anak di lingkungan tersebut. Ia pun memanfaatkan bangunan sederhana milik asisten rumah tangganya sebagai tempat belajar pertama. Tak disangka, respons warga sangat positif. Pada tahun pertama, sekolah tersebut langsung menerima sekitar 60 murid.

Bertahan dengan Dana Pribadi

Di balik keberlangsungan sekolah itu, Firda harus menghadapi banyak keterbatasan. Ia mengatakan, TK Inspirasi Indonesia tidak memiliki donatur tetap. Selama hampir sembilan tahun berjalan, operasional sekolah hingga gaji guru sebagian besar menggunakan dana pribadinya.

"Kami tidak memiliki donatur tetap. Jadi saya menggunakan dana pribadi dan terkadang mencari rekanan yang mau berdonasi," ujar Firda Budhiardjo, Tokoh Masyarakat.

Meski seluruh kegiatan belajar diberikan secara gratis, Firda berupaya agar kualitas pendidikan di sekolah tersebut tetap setara dengan taman kanak-kanak berbayar. Namun perjalanan membangun sekolah itu tidak selalu mudah. Pandemi Covid-19 sempat membuat jumlah murid menurun, donasi berkurang, dan beberapa guru memilih mundur. Firda bahkan sempat merasa tidak mampu melanjutkan sekolah tersebut.

Guru dengan Honor Rp 300.000

Di tengah keterbatasan itu, satu sosok tetap bertahan mendampingi anak-anak hingga sekarang. Dia adalah Lia Sri Mulyani. Lia bukan lulusan pendidikan guru. Ia bahkan hanya menamatkan pendidikan hingga sekolah dasar dan sehari-hari bekerja sebagai asisten rumah tangga. Perjalanannya menjadi pengajar bermula saat anaknya bersekolah di TK Inspirasi Indonesia. Dari situ, ia mulai tertarik membantu mengajar.

"Saya senang lihat anak-anak di sini rajin sekolah. Jadi saya ingin sekalian mengajar juga," ujar Lia Sri Mulyani, Pengajar.

Kini, setiap hari Lia mengajar seorang diri dengan honor sekitar Rp 300.000 per bulan. Pagi hari ia mengajar di sekolah, lalu melanjutkan pekerjaannya sebagai ART demi mencukupi kebutuhan hidup sebagai ibu tunggal dengan lima anak.

"Pendidikan itu sangat penting. Kalau bisa baca, kita tidak akan tersesat. Kalau bisa berhitung, kita tidak akan mudah ditipu," ujar Lia Sri Mulyani, Pengajar.

Meski sering dipandang sebelah mata, Lia tetap bangga dengan profesinya sebagai guru. Bagi para orangtua murid, keberadaan sekolah gratis itu menjadi harapan besar agar anak-anak mereka memiliki masa depan yang lebih baik.

Harapan Orangtua Pemulung

Salah satunya Entin, seorang pemulung yang menyekolahkan anaknya di TK Inspirasi Indonesia. Baginya, sekolah gratis tersebut menjadi kesempatan yang sebelumnya sulit dijangkau karena keterbatasan ekonomi.

"Ya pendidikan itu penting banget buat kami. Jangan sampai emak bapaknya pemulung, anaknya juga ikutan gitu," ujar Entin, Orangtua Murid.

Anak-anak pemulung ini kini memiliki tempat untuk bermimpi. Entin sangat bersyukur karena beban biaya pendidikan yang biasanya menjadi kendala besar kini teratasi berkat inisiatif pribadi Firda.

"Kalau sekolah di luar kan pakai biaya, nah di sini enggak. Yang penting anak saya biar pintar," ujar Entin, Orangtua Murid.

Pendidikan Gratis dari Sudut Pandang Psikologis

Konselor anak Agustina Twinky Indrawati menilai keberadaan sekolah gratis seperti TK Inspirasi Indonesia memiliki dampak penting bagi kondisi psikologis anak-anak dari keluarga rentan. Ia menyampaikan, pendidikan membuat anak-anak merasa dihargai dan memiliki harapan untuk masa depan yang lebih baik.

"Mereka bisa merasa dihargai, dianggap setara dengan teman-teman lain, serta memiliki harapan dan identitas yang positif," ujar Agustina Twinky Indrawati, Konselor Anak.

Namun di sisi lain, anak-anak dari keluarga miskin juga tetap rentan mengalami rasa minder dan kecemasan terhadap masa depan. Lingkungan yang keras dapat mempengaruhi cara mereka memandang diri sendiri.

"Mereka bisa menjadi lebih tertutup, menarik diri, bahkan mulai mempercayai penilaian negatif tentang dirinya," ujar Agustina Twinky Indrawati, Konselor Anak.

Karena itu, ia menilai sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang aman untuk membangun kepercayaan diri anak. Di tengah bau sampah, gang sempit, dan permukiman yang jauh dari kata layak, ruang kecil bernama TK Inspirasi Indonesia perlahan menjadi tempat tumbuhnya harapan. Di tempat itu, anak-anak belajar bahwa masa depan tidak selalu ditentukan oleh tempat mereka lahir.

Artikel terkait

Rekomendasi