Negara Timur Tengah Aktif Jajaki Perjanjian Dagang dengan Indonesia

Negara Timur Tengah Aktif Jajaki Perjanjian Dagang dengan Indonesia
Foto: Ilustrasi Negara Timur Tengah Aktif Jajaki Perjanjian Dagang dengan Indonesia.

Sejumlah negara di kawasan Timur Tengah mulai menunjukkan minat besar untuk menjalin kerja sama perdagangan bilateral dengan Indonesia setelah penyelesaian Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif IndonesiaÔÇöUni Eropa (IEUÔÇöCEPA). Hal tersebut disampaikan Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam rapat koordinasi nasional Kadin 2026 di Jakarta pada Kamis (30/4/2026).

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa dinamika perdagangan global saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan signifikan. Ia menyoroti adanya kebijakan tarif resiprokal serta konflik geopolitik yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah sebagai faktor penghambat utama.

Data yang dilansir dari Ekonomi menunjukkan kinerja ekspor nasional tetap berada di jalur positif dengan pertumbuhan sebesar 2,19% pada periode JanuariÔÇöFebruari 2026. Capaian ini memperpanjang catatan surplus neraca perdagangan Indonesia menjadi 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Meskipun secara keseluruhan positif, konflik di Timur Tengah menyebabkan penurunan nilai ekspor ke kawasan tersebut sebesar 13% pada dua bulan pertama tahun 2026. Namun, Indonesia tetap mencatatkan surplus senilai US$641 juta dari total ekspor ke wilayah itu yang mencapai US$9,8 miliar.

Distribusi ekspor ke Timur Tengah saat ini didominasi oleh Uni Emirat Arab (UEA) dengan porsi 40%, diikuti Arab Saudi sebesar 29%, dan Iran sekitar 2,5%. Keberhasilan penetrasi pasar di UEA dinilai merupakan dampak langsung dari implementasi perjanjian CEPA yang sudah berjalan.

"Setelah membuat CEPA selesai dengan UAE, kemudian negara-negara Timur Tengah sekarang mulai aktif berunding dengan kita. Jadi itu sebenarnya salah satu cara ketika UAE itu sudah berhasil dengan kita, maka negara-negara Timur Tengah lainnya juga ingin membuat perjanjian dagang," kata Budi dalam rapat koordinasi nasional (rakornas) Kadin 2026 di Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Budi menjelaskan bahwa pemerintah menggunakan pendekatan bilateral melalui satu negara kunci sebagai strategi membuka akses ke kawasan yang lebih luas. Langkah ini diambil karena proses perundingan dengan blok kawasan secara kolektif seringkali memakan waktu lama dan menghadapi prosedur yang rumit.

Selain fokus pada pasar Timur Tengah, pemerintah Indonesia juga terus memperkuat posisi di pasar Amerika Serikat yang menyumbang surplus terbesar. Nilai ekspor ke Amerika Serikat tercatat menyentuh angka US$30,9 miliar dengan surplus sebesar US$18,11 miliar.

"Pasar yang besar ini nggak mungkin, nggak mungkin kita tinggalkan. Makanya kita tetap harus mempunyai perjanjian dagang dengan Amerika," tegas Budi.

Pemerintah juga telah merampungkan beberapa kesepakatan internasional lainnya guna mendiversifikasi pasar ekspor ke negara-negara nontradisional. Beberapa di antaranya meliputi IndonesiaÔÇôCanada CEPA, Eurasia FTA, hingga IndonesiaÔÇôPeru CEPA, sementara kerja sama dengan Tunisia kini tengah menunggu proses penandatanganan resmi.

"Perjanjian dagang inilah yang sebenarnya memberi kesempatan kepada kita semua bagaimana kita bisa membuka pasar ke negara-negara khususnya nontradisional sehingga pasar kita itu semakin luas di negara lain," pungkas Budi.

Artikel terkait

Rekomendasi