Akses publik terhadap sejarah dan warisan budaya kini semakin luas secara interaktif melalui kolaborasi platform digital dengan kreator dan institusi budaya. Langkah ini diwujudkan oleh TikTok yang menghadirkan program global Comes Alive dan Museums Come Alive berupa tur virtual eksklusif melalui fitur TikTok LIVE.
Inisiatif global tersebut sengaja diluncurkan dalam rangka memperingati Hari Museum Internasional yang jatuh pada tanggal 18 Mei, seperti dikutip dari Popbela. Tren ini juga diperkuat dengan peluncuran Museum Insights Report 2026 yang menyoroti pergeseran minat generasi muda Indonesia terhadap sejarah.
Pemanfaatan fitur siaran langsung oleh institusi budaya terbukti efektif memperluas jangkauan penonton dunia. Sebagai contoh, The Metropolitan Museum of Art di New York sempat mengadakan tur LIVE tiga hari bersama kurator, sementara Grand Egyptian Museum di Mesir menyiarkan upacara pembukaannya secara langsung hingga menggaet hampir lima juta pemirsa.
Menyusul kesuksesan tersebut, program Comes Alive yang rilis pada 18 Mei menyediakan konten edukasi, kuliner, dan wisata sepanjang tahun. Khusus pada 18-20 Mei, rangkaian siaran Museums Come Alive mengajak penonton mengintip balik layar berbagai institusi melalui kerja sama erat dengan kreator lintas negara.
Sejumlah galeri global ikut berpartisipasi, seperti Almaty Museum of Arts di Kazakhstan yang memamerkan koleksi seni kontemporer privat. Ada pula National Museum of Kazakhstan yang menyajikan tur berdurasi dua jam dengan dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan dan Informasi setempat.
Sementara itu, The Museum of Modern Art (MoMA) New York menyelenggarakan panduan LIVE bersama pakar seni. Abdeen Palace Museum di Mesir bahkan membuka akses tur sebelum jam operasional normal, disusul Field Museum di Chicago yang memperlihatkan pameran Pok├®mon Fossil Museum secara eksklusif bagi pemirsa digital.
Sorotan Wastra di Museum Tekstil Jakarta
Kampanye ini juga menyasar ruang budaya lokal melalui Tur Museum di Museum Tekstil Jakarta, Indonesia. Destinasi ini aktif membagikan narasi kain tradisional dan wastra nusantara agar tetap relevan serta mudah diakses oleh generasi muda masa kini melalui akun resmi platform tersebut.
Agenda kunjungan fisik ke Museum Tekstil Jakarta menggandeng dua kreator lokal, yaitu Alma Al Farisi dan Asep Roman Muhtar. Keduanya aktif memproduksi konten edukasi bertema identitas nasional, sejarah, serta kebudayaan Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Alma dan Roman mengeksplorasi Galeri Batik yang menyimpan koleksi kain dari bermacam-macam daerah. Kreator bersama jurnalis media yang hadir juga mempraktikkan langsung proses membatik demi mendalami makna budaya di balik selembar wastra tradisional.
"Institusi budaya selalu memiliki kekuatan untuk membangkitkan rasa ingin tahu, dan kini berpeluang menjangkau orang-orang yang memiliki rasa ingin tahu tersebut. Pertumbuhan #MuseumTok juga membuktikan bahwa ketika museum hadir di ruang digital tempat orang sudah aktif berinteraksi, audiens baru pun ikut terhubung. Pada Hari Museum Internasional ini, kemitraan kami yang semakin erat dengan museum di seluruh dunia mencerminkan komitmen TikTok untuk membuat partisipasi budaya dapat diakses siapa pun, di mana pun mereka berada," ujar Karen Kang, Culture and Education Partnerships Lead, TikTok.
Temuan Utama Museum Insights Report 2026
Data dari Museum Insights Report 2026 memperlihatkan tren signifikan mengenai cara komunitas digital berinteraksi dengan sejarah selama setahun terakhir. Laporan ini merangkum tiga poin utama terkait perkembangan minat publik terhadap institusi museum.
Pertama, setiap museum memiliki peluang besar untuk membangun basis penggemar setia terlepas dari keunikan tema yang diangkat. Beberapa destinasi spesifik seperti Disgusting Food Museum, Ice Cream Museum, Trap Music Museum, hingga The Bone Museum menjadi instansi yang paling sering dicari pengguna.
Kedua, tren #MuseumTok membuktikan bahwa budaya populer dan humor autentik menjadi pintu masuk efektif untuk mengenalkan narasi masa lalu. Data statistik menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga pengguna platform di Indonesia memiliki ketertarikan pada museum, dan 51 persen di antaranya tertarik dengan topik sejarah.
Ketiga, posisi kreator kini bergeser menjadi kurator baru yang bertindak sebagai pencerita. Kehadiran para ahli, pegiat budaya, dan kreator lewat konten yang mudah dipahami terbukti membantu generasi muda menemukan ruang seni dengan pendekatan yang jauh lebih segar.