Sejumlah riset kesehatan yang dipublikasikan pada Rabu, 15 April 2026, mengungkapkan bahwa konsumsi tempe secara rutin berkaitan erat dengan peningkatan fungsi kognitif dan memori, terutama pada kelompok lanjut usia (lansia).
Data dari studi intervensi dalam jurnal Frontiers in Nutrition menunjukkan adanya kenaikan skor kognitif sebesar 1 hingga 2 poin setelah responden mengonsumsi tempe dalam periode tertentu, khususnya pada aspek kemampuan daya ingat atau recall.
Pencapaian skor tersebut dinilai sangat signifikan jika dibandingkan dengan kondisi normal lansia sehat yang umumnya mengalami penurunan skor kognitif sekitar 0,1 hingga 0,3 poin per tahun sebagaimana dilansir dari Detik Health.
Elizabeth Hogervorst dalam jurnal Dementia and Geriatric Cognitive Disorders menemukan bahwa lansia yang sering mengonsumsi tempe memiliki performa memori lebih baik daripada mereka yang jarang mengonsumsinya.
Dalam 100 gram tempe terkandung 18-20 gram protein, 30-60 mg isoflavon sebagai antioksidan, serta vitamin B12 sekitar 0,06-0,12 mikrogram yang berperan penting dalam fungsi saraf dan pembentukan neurotransmiter.
Selain dukungan nutrisi mikro, proses fermentasi tempe menghasilkan mikroorganisme yang mendukung kesehatan usus, yang menurut Frontiers in Aging Neuroscience, terhubung dengan otak melalui jalur gut-brain axis untuk memengaruhi fungsi otak.
Penelitian dalam Journal of Ethnic Foods juga mencatat bahwa ekstrak tempe mampu menurunkan ekspresi gen seperti PSEN1 dan Gsk3b yang menjadi pemicu pembentukan plak beta-amyloid serta peradangan saraf terkait penyakit Alzheimer.
Tempe menunjukkan aktivitas anti-asetilkolinesterase yang membantu menjaga kadar asetilkolin, sebuah mekanisme biologis yang serupa dengan cara kerja beberapa jenis obat terapi untuk pasien Alzheimer di tingkat laboratorium.