Masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia masih memilih daging kerbau sebagai hewan kurban karena harga ekonomis dan kandungan protein yang baik, meskipun sebagian menganggap teksturnya keras dan sulit diolah.
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Irma Isnafia Arief menjelaskan bahwa komoditas ini dapat diolah menjadi hidangan empuk melalui perlakuan khusus yang tepat, dilansir dari Media Indonesia pada Rabu (27/5).
"Daging kerbau memiliki tekstur lebih keras dibandingkan daging sapi, sehingga memerlukan perlakuan khusus agar hasilnya empuk dan enak disantap," kata Prof Irma dalam keterangannya, Rabu (27/5).
Langkah krusial pertama untuk melunakkan tekstur tersebut adalah dengan menerapkan teknik pemotongan daging secara melintang serat guna memudahkan proses pemasakan.
"Cukup bungkus daging dalam daun pepaya selama 10 menit atau aduk dengan irisan nanas selama 5ÔÇô10 menit. Tapi jangan terlalu lama, agar daging tidak hancur," jelasnya.
Pemanfaatan enzim dari bahan alami seperti daun pepaya dan nanas tersebut sangat efektif melembutkan serat, sementara penggunaan bumbu jahe, serai, daun jeruk, serta air jeruk nipis berfungsi mengurangi aroma khas sekaligus mendongkrak cita rasa.
"Masih banyak masyarakat yang keliru saat memasak daging kerbau, misalnya menggunakan api besar. Ini justru membuat daging cepat kering dan keras," katanya.
Guna menghindari kekeliruan tersebut, disarankan penerapan metode memasak perlahan (slow cooking) memakai api kecil, penggunaan panci presto, atau memukul daging sebelum dimasak.
"Jika tahu cara mengolahnya, daging kerbau bisa jadi alternatif sumber protein hewani yang lezat, sehat, dan ekonomis," pungkasnya.
Rendahnya minat konsumsi dan popularitas daging kerbau dibanding daging sapi saat ini dipengaruhi oleh faktor distribusi yang belum merata, aroma khas, serta ketidaktahuan masyarakat mengenai cara pengolahannya.