Sejumlah pilot maskapai yang beroperasi di kawasan Timur Tengah menghadapi tekanan besar untuk tetap terbang di zona konflik atau menghadapi ancaman pemecatan pada Selasa (14/4/2026). Para kru pesawat kini berada dalam posisi sulit akibat situasi geopolitik yang tidak menentu dan berisiko tinggi bagi keselamatan penerbangan.
Presiden International Federation of Air Line Pilot' Associations (IFALPA), Ron Hay, mengungkapkan bahwa kecemasan ini telah menyebar luas di kalangan pilot dari berbagai negara. Dilansir dari Detik Travel, mereka khawatir akan menerima sanksi disiplin jika menolak penugasan di wilayah udara yang berbahaya.
"Ada ketakutan mendasar akan pembalasan," kata Ron Hay, Presiden IFALPA, saat menanggapi kondisi yang dialami para pilot di Lebanon hingga India. Sanksi yang membayangi para pilot tersebut mulai dari penghentian pembayaran gaji hingga kehilangan pekerjaan secara permanen.
Kondisi operasional di lapangan disebut sangat dinamis karena ruang udara dapat ditutup secara mendadak akibat serangan drone atau rudal. Meski gencatan senjata dua pekan telah diumumkan, serangan sporadis masih terjadi di beberapa titik yang menjadi rute penerbangan aktif.
Hay menjelaskan bahwa tekanan manajemen tidak selalu berupa ancaman pemecatan secara langsung kepada staf. Dalam beberapa laporan, maskapai menerapkan kebijakan tidak membayar pilot yang memilih untuk tidak mengambil risiko terbang di wilayah rawan konflik tersebut.
Praktik ini dinilai menunjukkan lemahnya budaya keselamatan pada sejumlah maskapai penerbangan di kawasan Timur Tengah. Sementara itu, beberapa maskapai di Uni Emirat Arab dan Qatar tetap beroperasi dengan mengandalkan jalur khusus yang telah disepakati bersama regulator penerbangan.
Upaya untuk mendapatkan kesaksian langsung dari para kru udara menemui kendala karena tingginya risiko profesional. Berdasarkan laporan Reuters, lebih dari dua belas pilot di kawasan Teluk menolak memberikan komentar terkait situasi ini meskipun identitas mereka dirahasiakan.
Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) sendiri telah memperpanjang larangan bagi maskapai Eropa untuk melintasi wilayah udara tertentu di Teluk hingga 24 April. Namun, maskapai yang berbasis di Doha, Dubai, dan India terpantau masih mempertahankan jadwal operasional rutin mereka.
Sebagai respons atas meningkatnya risiko kerja tersebut, IFALPA telah merilis panduan teknis terbaru. Panduan ini menegaskan hak mutlak pilot dalam menentukan keputusan akhir berdasarkan aspek keselamatan penerbangan tanpa harus menghadapi konsekuensi negatif dari perusahaan.