Dua kelompok massa terlibat aksi tawuran menggunakan berbagai jenis senjata tajam dan benda tumpul di Jalan Jelambar Utama Empat, Grogol Petamburan, Jakarta Barat pada Kamis (23/4/2026). Insiden yang meresahkan masyarakat ini terekam menggunakan batu hingga botol kaca di lokasi kejadian.
Berdasarkan informasi yang dilansir dari Kompas, bentrokan tersebut melibatkan puluhan orang yang saling serang. Bekas pecahan botol dan beling yang berserakan di jalanan pascakejadian dilaporkan mengganggu aktivitas serta kenyamanan warga di lingkungan sekitar.
Ketua RW setempat, Ahmad Toni, memberikan kesaksian mengenai jenis persenjataan yang dibawa oleh para pelaku saat bentrokan pecah di wilayahnya. Ia menyebutkan massa membawa perlengkapan yang beragam untuk menyerang lawan.
"Dia bawa senjata tajam, celurit panjang-panjang, kadang-kadang samurai, jadi campur ada samurai, ada celurit, ada yang bawa bambu, ada yang pakai batu," ungkap Ahmad Toni, Ketua RW setempat.
Ahmad menambahkan bahwa satu kelompok massa yang terlibat diperkirakan terdiri dari 20 hingga 30 orang. Meskipun kejadian ini sering terulang, ia mengaku belum mengetahui secara pasti pemicu utama dari perselisihan tersebut.
"Saya nggak ngerti (masalahnya), mungkin dia janjiannya di medsos atau apalah. Kita juga jadi pengurus udah pusing sendiri ngurusinnya," keluh Ahmad.
Pemantauan ketat sebenarnya telah dilakukan oleh pihak pengurus lingkungan selama bulan Ramadan untuk mencegah terjadinya gesekan antarwarga. Upaya tersebut sempat membuahkan hasil dengan nihilnya kejadian tawuran selama sebulan penuh.
Namun, situasi kondusif tersebut tidak bertahan lama karena aksi kekerasan kembali pecah segera setelah bulan puasa berakhir. Ahmad menekankan bahwa dampak negatif kerusuhan ini turut membebani warga yang harus membersihkan sisa-sisa bentrokan.
"Yang jadi masalah kan, belingnya itu berceceran. Akhirnya yang pusing warga, komplain, beresin-beresin, tiap pagi nyapuin beling," ungkap Ahmad.
Sebagai langkah tindak lanjut, pengurus RW berencana mengonsolidasikan jajaran RT, pemuda, beserta para orang tua. Pertemuan tersebut bertujuan untuk merumuskan solusi bersama guna menghentikan siklus tawuran yang merugikan nama baik keluarga dan lingkungan.