Pemprov DKI Jakarta Berlakukan Tarif TransJakarta Rp1 pada 24 April

Pemprov DKI Jakarta Berlakukan Tarif TransJakarta Rp1 pada 24 April
Foto: Ilustrasi Pemprov DKI Jakarta Berlakukan Tarif TransJakarta Rp1 pada 24 April.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan tarif khusus sebesar Rp1 untuk seluruh layanan TransJakarta pada Jumat, 24 April 2026. Kebijakan ini diterapkan sepanjang hari mulai pukul 00.00 hingga 23.59 WIB guna memperingati Hari Angkutan Nasional 2026 di wilayah ibu kota.

Kepala Departemen Humas dan CSR Transjakarta Ayu Wardhani menjelaskan bahwa skema harga ini mencakup layanan Bus Rapid Transit (BRT) maupun non-BRT. Informasi yang dilansir dari Money menyebutkan program tersebut bertujuan menarik minat warga agar beralih menggunakan moda transportasi publik.

"Melalui tarif Rp1, kami ingin memberikan kemudahan sekaligus mengajak lebih banyak warga beralih ke angkutan umum sebagai pilihan mobilitas yang efisien dan berkelanjutan," jelas Ayu, Kamis (23/4/2026) dikutip dari Antara.

Pihak manajemen menekankan bahwa peringatan tahunan ini menjadi titik tolak untuk menjadikan transportasi umum sebagai bagian dari gaya hidup sehat. TransJakarta menyatakan komitmennya untuk terus melakukan peningkatan kualitas layanan agar tetap inklusif dan aman bagi seluruh lapisan masyarakat.

"Kami berharap momentum ini dapat semakin meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan transportasi publik, tidak hanya pada peringatan Hari Angkutan Nasional, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup mobilitas sehari-hari yang lebih efisien dan ramah lingkungan,ÔÇØ tutur Ayu.

Sementara itu, layanan khusus seperti Mikrotrans, TransJakarta Cares (Transcare), serta kategori pelanggan penerima manfaat tetap dikenakan tarif Rp0. Selain penyesuaian tarif, TransJakarta juga tengah fokus pada program dekarbonisasi melalui transisi armada.

Spesialis Utama Transformasi dan Manajemen Perubahan Transjakarta, Gatot Indra Koswara memaparkan bahwa konversi dari bahan bakar fosil ke tenaga listrik sedang dijalankan. Penghematan subsidi bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu keunggulan jangka panjang dari penggunaan armada bus listrik tersebut.

"Satu unit bus konvensional TransJakarta membutuhkan sekitar 39.238 liter solar per tahun. Dari kebutuhan tersebut, potensi subsidi yang dapat ditekan mencapai sekitar Rp302 juta per unit setiap tahun," kata Gatot, Selasa (21/4/2026).

Gatot menambahkan bahwa efisiensi juga ditemukan pada sektor pemeliharaan kendaraan yang diklaim jauh lebih ekonomis. Ia membandingkan biaya operasional jangka panjang yang setara dengan harga perolehan unit baru bus listrik berukuran 12 meter.

"Biaya operasional bus konvensional selama 5,5 tahun bisa menyentuh Rp3,9 miliar. Angka tersebut seharga satu unit bus listrik 12 meter," katanya.

Langkah transformasi ini diharapkan dapat menekan emisi gas buang karbon secara signifikan di Jakarta. Implementasi teknologi ramah lingkungan pada transportasi massal diproyeksikan mampu memperbaiki kualitas udara di kawasan metropolitan tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi