Sebanyak 14 penumpang KRL dilaporkan meninggal dunia dan 84 lainnya luka-luka setelah terjadi kecelakaan beruntun di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam. Insiden fatal tersebut melibatkan rangkaian Commuter Line (KRL) dan KA Argo Bromo Anggrek relasi JakartaÔÇôSurabaya.
Data korban jiwa tersebut dikonfirmasi hingga Selasa (28/4/2026) pagi, di mana seluruh jenazah telah dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi. Dilansir dari Teknologi, sebanyak 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dinyatakan selamat dalam musibah yang terjadi sekitar pukul 20.52 WIB tersebut.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, meminta publik untuk tidak menyebarkan informasi palsu atau konten yang dapat menambah penderitaan keluarga korban di media sosial.
"Jadi tentu kami menghimbau betul tidak ada yang memanfaatkan peristiwa musibah seperti ini, pertama apalagi untuk menyebarkan hoaks atau berita tidak benar," kata Meutya, Menteri Komunikasi dan Digital.
Penegasan mengenai pentingnya empati digital disampaikan Meutya guna mencegah trauma psikis lebih lanjut bagi para penyintas dan keluarga yang ditinggalkan.
"Tapi pada semangatnya, kami ingin masyarakatnya juga untuk tidak melakukan itu [penyebaran hoaks]," kata Meutya, Menteri Komunikasi dan Digital.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menjelaskan bahwa rangkaian peristiwa bermula ketika sebuah taksi listrik menemper KRL relasi BekasiÔÇôCikarang di perlintasan sebidang JPL 85. Hal ini menyebabkan gangguan pada operasional kereta lainnya di jalur tersebut.
"Namun, KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi JakartaÔÇôSurabaya tidak sempat berhenti sepenuhnya sehingga terlibat insiden dengan KA PLB 5568 yang sedang berhenti," ujar Dudy, Menteri Perhubungan.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, menyatakan bahwa gangguan pada sistem perkeretaapian diduga kuat berawal dari insiden di perlintasan sebidang tersebut.
"Ini kami curigai membuat sistem perkeretaapian di Stasiun Bekasi Timur terganggu," kata Bobby, Direktur Utama PT KAI.
Bobby menjelaskan bahwa taksi listrik tersebut menabrak KRL baru produksi China, sementara KA Argo Bromo Anggrek menghantam KRL lama buatan Jepang yang sedang berhenti di stasiun dengan kecepatan tinggi. Saat ini, investigasi menyeluruh atas kecelakaan tersebut telah diserahkan sepenuhnya kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).