Tujuh orang dilaporkan tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat tabrakan hebat antara rangkaian KRL Commuter Line dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026. Peristiwa tragis ini bermula dari adanya satu unit mobil listrik yang mengalami mogok tepat di perlintasan sebidang jalan.
Data korban jiwa dan cedera tersebut dikonfirmasi menyusul insiden yang mengguncang publik di wilayah Bekasi tersebut. Berdasarkan laporan yang dilansir dari Suara, kendaraan yang menghambat jalur kereta tersebut merupakan taksi listrik berwarna cyan milik operator asal Vietnam, Green SM, yang berhenti di sekitar perlintasan Bulak Kapal.
Kondisi mobil yang mogok memaksa masinis KRL melakukan pengereman mendadak di area perlintasan sebidang sebelum akhirnya ditabrak dari arah belakang oleh kereta jarak jauh. Mobil listrik tersebut dilaporkan terseret hingga sejauh 50 meter setelah dihantam oleh rangkaian kereta api.
Pihak pengelola layanan taksi listrik tersebut segera memberikan tanggapan resmi melalui media sosial terkait keterlibatan armada mereka dalam kecelakaan maut ini. Manajemen menyatakan komitmennya untuk mengikuti seluruh prosedur pemeriksaan yang sedang berjalan oleh pihak berwenang.
"menaruh perhatian penuh" kata akun Instagram resmi @id.greensm, Green SM.
Perusahaan tersebut menambahkan bahwa mereka saat ini tengah proaktif menjalin komunikasi dengan instansi terkait guna mendalami penyebab pasti gangguan pada unit kendaraan mereka di lokasi kejadian. Upaya koordinasi dilakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas insiden di pelintasan tersebut.
"5 Janji Hijau" ujar pihak manajemen, Green SM.
Visi operasional perusahaan yang menekankan pada standar pelayanan tinggi kini menjadi sorotan tajam usai terjadinya kecelakaan di Bekasi. Saat ini, kepolisian dan pihak terkait masih terus melakukan investigasi mendalam mengenai kelayakan operasional armada taksi listrik yang baru beroperasi secara masif di Indonesia tersebut.