Sebanyak 77% responden di Indonesia diperkirakan akan tetap melanjutkan aktivitas bekerja meskipun telah memasuki usia pensiun. Data tersebut diperoleh berdasarkan hasil riset terbaru dari Sun Life Indonesia yang bertajuk 'Retirement Reimagined: AsiaÔÇÖs Retirement Divide', seperti dilansir dari Investortrust.
Presiden Direktur Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo menjelaskan bahwa terdapat dua realitas yang berbeda di tengah masyarakat dalam menghadapi masa tua. Bagi sebagian orang, bekerja pada usia senja merupakan pilihan bebas yang menawarkan fleksibilitas.
ÔÇ£Sementara bagi yang lain, bekerja lebih lama mencerminkan tekanan keuangan yang dihadapi. Merencanakan pensiun lebih awal dan secara menyeluruh adalah penentu realitas mana yang akan dijalani,ÔÇØ ujarnya, dalam keterangan pers, belum lama ini.
Dorongan pribadi menjadi alasan bagi sebagian responden untuk tetap aktif, seperti mempertahankan tujuan hidup (48%), menjaga relasi sosial (48%), serta mendapatkan stimulasi mental (36%). Namun, mayoritas sebanyak 71% responden mengakui faktor ekonomi menjadi alasan utama karena mereka membutuhkan dana tambahan demi mencukupi kebutuhan pokok.
Studi ini membagi masyarakat ke dalam dua kelompok, yakni gold star planners dan stalled starters. Kelompok gold star planners merupakan individu yang mapan secara finansial dan siap mengatur masa pensiun mereka, di mana 48% dari mereka sangat menantikan masa tersebut.
Sebaliknya, kelompok stalled starters terpaksa menunda masa pensiun karena desakan ekonomi. Sebanyak 43% dari kelompok stalled starters harus terus bekerja demi mendanai biaya pendidikan ataupun kebutuhan hidup anak-anak mereka.
Di sisi lain, sebanyak 83% dari kelompok gold star planners memilih untuk tidak berhenti bekerja karena menyukai interaksi sosial serta ingin menjaga kebugaran fisik dan mental mereka.
Riset ini juga menemukan adanya lonjakan signifikan dalam pemanfaatan generative AI untuk menyusun rencana keuangan. Penggunaan platform seperti ChatGPT dan Google Gemini melonjak drastis dari 13% hingga menyentuh angka 30%.
Fenomena ini berbanding terbalik dengan tingkat kepercayaan terhadap penasihat konvensional yang justru menyusut. Responden yang memanfaatkan jasa perbankan turun dari 40% pada 2024 menjadi 31% tahun ini, sementara konsultasi dengan penasihat keuangan independen merosot dari 44% ke 31%.
Albertus Wiroyo berpendapat bahwa teknologi kecerdasan buatan dapat menjadi langkah awal untuk mengumpulkan informasi, namun belum bisa menggantikan sentuhan personal dari ahli profesional.
ÔÇ£Saat teknologi mengubah cara orang merencanakan pensiun, pelibatan nasihat dari ahli keuangan tetap penting agar keputusan yang diambil dapat ditopang oleh informasi yang akurat, seimbang, dan selaras dengan tujuan masing-masing individu,ÔÇØ katanya.
Pengaruh Beban Finansial dan Kondisi Kesehatan
Rasa aman secara finansial menjadi fondasi utama munculnya sikap optimistis dalam menghadapi masa tua. Faktor ini disetujui oleh 60% responden yang optimistis, disusul aspek stabilitas sebesar 46%, serta kemampuan mengendalikan fase hidup sebesar 23%.
Bagi kelompok yang merasa cemas, kekhawatiran terbesar dipicu oleh ketakutan tidak mampu menafkahi keluarga (44%) serta kondisi keuangan yang tidak menentu (37%). Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa 24% responden sama sekali belum memiliki rencana hari tua.
Tekanan hidup sebagai generasi sandwich yang harus menanggung hidup orang tua sekaligus anak turut memperumit situasi. Akibat beban ganda ini, 40% responden terpaksa menurunkan standar gaya hidup mereka, dan 23% lainnya terpaksa menunda waktu pensiun.
Dari aspek kesehatan, 55% responden yang merasa optimistis mengaitkan masa tua mereka dengan kondisi fisik yang prima, dan 52% melihatnya dari kesehatan mental yang terjaga. Sebaliknya, 22% responden memilih pensiun dini akibat faktor penurunan kesehatan tubuh.
ÔÇ£Perencanaan pensiun yang kuat dan komprehensif akan membantu mewujudkan keamanan finansial dan kesejahteraan jangka panjang,ÔÇØ ucap Albertus.