Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$5,55 miliar pada kuartal I/2026, namun angka ini menunjukkan penurunan sebesar US$5,36 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu di tengah tekanan dinamika global yang belum stabil.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan yang dilansir dari Ekonomi pada Selasa (5/5/2026), performa tersebut dihasilkan dari nilai ekspor sebesar US$66,85 miliar dan impor yang mencapai US$61,30 miliar. Untuk performa bulanan, surplus Maret 2026 berada pada angka US$3,32 miliar atau turun US$1,01 miliar secara tahunan.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan Ni Made Kusuma Dewi mengonfirmasi bahwa kondisi ketidakstabilan global menjadi pemicu utama penyusutan surplus tersebut. Faktor geopolitik di Timur Tengah dan gangguan logistik global berkontribusi besar pada pergeseran struktur perdagangan dunia.
"Dampak ini dirasakan berbagai negara di dunia, tidak hanya Indonesia. Kita menjadi salah satu negara yang merasakan dampak geopolitik ini melalui penurunan surplus neraca perdagangan," ujar Ni Made Kusuma Dewi, Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan.
Pemerintah menyoroti kenaikan harga energi di Teluk Persia yang memperlebar defisit pada sektor migas nasional. Sementara itu, sisi impor justru menunjukkan tren penguatan pada kategori barang modal sebesar 24,02 persen dan bahan baku/penolong yang meningkat 6,89 persen secara kumulatif.
"Terjadinya peningkatan impor barang modal dan bahan baku/penolong tersebut menunjukkan adanya geliat aktivitas industri pengolahan di dalam negeri, walaupun hal tersebut menekan surplus neraca perdagangan pada Maret 2026," tandas Ni Made Kusuma Dewi, Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan.
Peningkatan impor ini dinilai sebagai sinyal positif bagi pemulihan aktivitas manufaktur domestik meskipun secara langsung memberikan tekanan pada total surplus perdagangan pada penutupan kuartal pertama tahun ini.