Surplus Neraca Dagang Indonesia Maret 2026 Diprediksi Menguat

Surplus Neraca Dagang Indonesia Maret 2026 Diprediksi Menguat
Foto: Ilustrasi Surplus Neraca Dagang Indonesia Maret 2026 Diprediksi Menguat.

Neraca perdagangan Indonesia diproyeksikan mencetak surplus yang menguat pada Maret 2026 didorong oleh tingginya permintaan komoditas ekspor dari negara mitra dagang seperti China. Tren positif ini diprakirakan memperpanjang catatan surplus nasional menjadi 71 bulan berturut-turut sebagaimana dilansir dari Ekonomi pada Minggu (3/5/2026).

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Sumual memperkirakan surplus perdagangan pada periode tersebut akan menyentuh angka US$2,34 miliar. Berdasarkan analisisnya, kinerja ekspor tumbuh 3,43% secara bulanan meskipun secara tahunan mengalami kontraksi sebesar 1,38%.

"Surplus dagang diprediksi menguat, meski terms of trade mengecil karena harga komoditas impor lebih cepat naik daripada komoditas ekspor," terang David Sumual.

David menjelaskan bahwa indikasi penguatan terlihat dari peningkatan impor komoditas asal Indonesia oleh Singapura, Thailand, dan China. Secara khusus, terdapat lonjakan permintaan signifikan dari China terhadap produk minyak mentah Indonesia yang mencapai nilai US$3 miliar.

"Khusus untuk China ada peningkatan US$3 billion [miliar] di produk crude oil, kemungkinan kapal Iran yang transit melalui Indonesia dan dilaporkan sebagai ekspor Indonesia," ungkap David Sumual.

Proyeksi serupa disampaikan oleh Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Andry Asmoro yang menaksir angka surplus lebih tinggi mencapai US$2,5 miliar. Kenaikan ini ditengarai oleh penguatan harga komoditas energi dan nikel di pasar global.

"Meski demikian, kenaikan ekspor CPO bisa jadi lebih terbatas seiring dengan pelemahan volume pengapalan secara tajam di Maret," terang Andry Asmoro.

Data menunjukkan harga nikel naik 6,2% (yoy) dan baja meningkat 10% (yoy), namun volume ekspor CPO tercatat merosot hingga 45,9% secara bulanan menjadi 1,28 juta ton. Pengiriman produk mineral ke China menjadi motor utama dengan pertumbuhan mencapai 250% secara tahunan.

"Utamanya ekspor produk mineral ke China menanjak 250% (yoy) sedangkan baja naik 22% (yoy)," terang Andry Asmoro.

Andry menambahkan bahwa posisi China tetap dominan sebagai asal impor barang modal dan bahan baku bagi Indonesia. Ia menyoroti adanya ketidakseimbangan prospek ekspor akibat pelemahan volume pada beberapa komoditas utama.

"Secara keseluruhan surplus neraca dagang Maret 2026 diprakirakan melebar, namun prospek ekspor semakin terlihat tidak seimbang sebab kenaikan harga komoditas diimbangi oleh momentum volume yang lebih lemah pada beberapa komoditas utama seperti minyak sawit," tutup Andry Asmoro.

Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede memprediksi surplus bisa menembus US$2,77 miliar. Percepatan pengadaan stok oleh negara mitra guna mengantisipasi gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utamanya.

"Kenaikan harga komoditas utama, khususnya energi, batu bara, dan minyak sawit, juga membantu menopang nilai ekspor, meskipun secara tahunan ekspor masih diperkirakan sedikit turun -0,09%yoy karena faktor libur Idulfitri," terang Josua Pardede.

Meskipun surplus bertahan, Josua memperingatkan adanya tekanan pada neraca transaksi berjalan di masa depan. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan impor yang dipicu oleh kebutuhan domestik dan kenaikan harga minyak dunia.

"Artinya, surplus dagang memang masih bertahan, tetapi kualitasnya perlu dibaca hati-hati karena dorongan impor mencerminkan pemulihan aktivitas ekonomi sekaligus menambah tekanan pada neraca transaksi berjalan apabila harga minyak dan rupiah tetap berada dalam tekanan," ujar Josua Pardede.

Artikel terkait

Rekomendasi