Pemerintah Arahkan Subsidi Kendaraan Listrik Berbasis Nikel

Pemerintah Arahkan Subsidi Kendaraan Listrik Berbasis Nikel
Foto: Ilustrasi Pemerintah Arahkan Subsidi Kendaraan Listrik Berbasis Nikel.

LANGKAH pemerintah mengarahkan kebijakan subsidi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berbasis nikel atau nickel manganese cobalt (NMC) mendapat apresiasi. Kebijakan ini dinilai strategis untuk menekan ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat ekosistem baterai nasional melalui hilirisasi mineral domestik.

Pemerintah berencana mengalokasikan subsidi untuk 200 ribu sepeda motor dan mobil listrik yang dijadwalkan bergulir mulai Juni 2026. Fokus utama dari kebijakan ini adalah menciptakan efisiensi fiskal jangka panjang dengan mengurangi konsumsi BBM fosil.

Skema Insentif Berbasis Kandungan Lokal

Berdasarkan draf kebijakan yang sedang disiapkan, pemerintah akan memberikan insentif yang dibedakan berdasarkan jenis teknologi baterai guna mendorong penggunaan nikel domestik:

- PPN DTP 100%: Untuk mobil listrik berbasis baterai nikel (NMC).

- PPN DTP 40%: Untuk mobil listrik dengan baterai non-nikel (seperti lithium iron phosphate/ LFP).

- Subsidi Motor Listrik: Sebesar Rp5 juta per unit.

Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmi Radhi, menilai prioritas pada NMC sangat tepat. "Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Berbeda dengan LFP yang bahan bakunya belum diproduksi di sini, teknologi NMC memungkinkan integrasi langsung dengan industri hulu kita," jelas Fahmi.

Pertumbuhan Pasar EV dan Dominasi LFP

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan lonjakan penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) dari 56.204 unit pada 2024 menjadi 114.413 unit pada 2025. Namun, pasar saat ini masih didominasi oleh teknologi LFP.

| Jenis Baterai | Pangsa Pasar 2024 | Pangsa Pasar 2025 |

| -------------------- | ----------------- | ----------------- |

| LFP (Non-Nikel) | 83,3% | 77,2% |

| NMC (Berbasis Nikel) | 16,7% | 22,8% |

*Sumber: Data Wholesales Gaikindo (diolah)

Meskipun LFP masih dominan, penjualan EV berbasis NMC mencatatkan pertumbuhan lebih tajam sebesar 177,6% sepanjang 2025. Tren ini diharapkan terus meningkat seiring dengan kebijakan insentif yang lebih selektif dari pemerintah.

Hilirisasi Melampaui Nikel

Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya Farhan Arif, menyarankan agar insentif tidak hanya berhenti pada kendaraan, tetapi juga menyasar industri komponen baterai. Ia menekankan bahwa baterai NMC juga mengandung komponen lain yang bisa dilokalisasi.

"Komponen baterai NMC terdiri dari 23% grafit, 21% nikel, 18% aluminium, dan 13% tembaga. Jika kita bisa memberikan insentif untuk penggunaan aluminum sheet lokal, misalnya dari Inalum, hilirisasi akan meluas ke berbagai sektor mineral," ungkap Aditya di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Aditya juga mendorong penguatan skema tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang lebih mendalam, yakni menghitung hingga asal-usul material, bukan sekadar proses manufaktur akhir. Dengan konsistensi kebijakan ini, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar bagi produsen asing, tetapi mampu membangun ekosistem industri kendaraan listrik yang mandiri dari hulu hingga hilir. (I-2)

- ESDM Dorong Hilirisasi Minerba, Indonesia Bisa Kuasai Pasar Timah dan Nikel Dunia 12/2/2026 17:26 Dirjen Minerba ESDM Tri Winarno menekankan potensi hilirisasi komoditas mineral dan batu bara Indonesia, termasuk timah dan nikel, untuk meningkatkan peran Indonesia di pasar global.

Artikel terkait

Rekomendasi