Studi Jerman Buktikan Penyembelihan Hewan Sesuai Syariat Islam Tidak Timbulkan Rasa Sakit

Studi Jerman Buktikan Penyembelihan Hewan Sesuai Syariat Islam Tidak Timbulkan Rasa Sakit
Foto: Ilustrasi Studi Jerman Buktikan Penyembelihan Hewan Sesuai Syariat Islam Tidak Timbulkan Rasa Sakit.

Tata cara penyembelihan hewan kurban memiliki aturan khusus dalam Islam yang tidak boleh dilakukan secara sembarangan.

Perintah berkurban ini tercantum dalam Al-Qur'an, tepatnya surah Al Kautsar ayat 2.

Allah SWT berfirman,

┘ü┘ÄÏ▒┘ÄÏ¿┘æ┘É┘â┘Ä ┘Ä┘ê┘▒┘å┘ÆÏ¡┘ÄÏ▒┘Æ

Artinya: "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah."

Saat menyembelih, seorang muslim diwajibkan membaca basmalah, memotong leher hewan, menghadapkannya ke kiblat, serta memosisikan lambung kirinya di bagian bawah.

Muncul pertanyaan mengenai apakah hewan kurban merasakan sakit ketika proses penyembelihan tersebut berlangsung.

Dilansir dari Detikcom melalui buku Menjadi Bijak & Bijaksana karya Ibnu Basyar, sebuah riset ilmiah membuktikan hewan yang disembelih sesuai syariat Islam sama sekali tidak merasakan sakit.

Penelitian terstruktur ini dipimpin oleh dua staf peternakan dari Hannover University di Jerman, yaitu Prof Wilhelm Schulze dan Dr Hazim.

Mereka membandingkan tingkat rasa sakit antara metode syariat Islam menggunakan pisau tajam dengan metode barat yang memukul kepala hewan terlebih dahulu.

Uji coba ini menggunakan sekelompok sapi dewasa yang dipasangi perangkat canggih Electro Encephalograph (EEG) pada permukaan otak kecil untuk merekam derajat rasa sakit.

Bagian jantung sapi juga dipasangi Electro Cardiograph (ECG) guna mencatat aktivitas jantung saat darah keluar.

Sapi-sapi tersebut dibiarkan beradaptasi dengan alat EEG dan ECG selama beberapa minggu demi menekan risiko kesalahan data.

Setelah masa adaptasi selesai, separuh sapi disembelih sesuai syariat Islam dan separuh lainnya menggunakan metode pemingsanan barat.

Penyembelihan secara Islam dilakukan dengan memotong tiga saluran utama di leher, yaitu saluran makanan, saluran napas, serta dua pembuluh darah besar (arteri karotis dan vena jugularis).

Hasil rekaman data menunjukkan indikasi yang berbeda dari kedua metode tersebut.

Pada metode Islam, tidak ada perubahan grafik EEG pada tiga detik pertama setelah penyembelihan, yang menandakan tidak adanya indikasi rasa sakit.

Tiga detik berikutnya, grafik EEG pada otak kecil menurun bertahap mirip dengan kondisi tidur nyenyak (deep sleep) hingga sapi kehilangan kesadaran, sementara aktivitas ECG jantung meningkat.

Setelah enam detik pertama, ECG merekam aktivitas luar biasa jantung untuk memompa seluruh darah keluar dari tubuh sebagai refleksi koordinasi dengan sumsum tulang belakang.

Saat darah keluar maksimal, grafik EEG justru drop hingga zero level yang diartikan oleh kedua ahli sebagai "No feeling of pain at all!" atau tidak ada rasa sakit sama sekali.

Keluarnya darah secara maksimal ini menghasilkan "healthy meat" atau daging yang sehat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise (GMP).

Sebaliknya, metode pemingsanan (stunning) barat membuat sapi langsung roboh dan mudah dikendalikan tanpa meronta, namun darah yang keluar hanya sedikit.

Grafik EEG menunjukkan kenaikan sangat nyata setelah proses pemingsanan, yang mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit akibat kepala yang dipukul.

Grafik EEG yang meningkat tajam tersebut dikombinasikan dengan grafik ECG yang drop ke batas paling bawah.

Kondisi ini membuat jantung kehilangan kemampuan untuk menarik dan memompa darah keluar dari tubuh secara maksimal.

Akibatnya, darah membeku di dalam pembuluh darah daging sehingga menghasilkan "unhealthy meat" atau daging yang tidak sehat dan tidak layak dikonsumsi manusia.

Artikel terkait

Rekomendasi