Nilai tukar rupiah di pasar spot mengalami tekanan hebat hingga menyentuh level Rp 17.596 per dolar Amerika Serikat pada Jumat (15/5). Kondisi ini mendorong para pakar investasi menyarankan strategi rebalancing dan diversifikasi portofolio guna memitigasi risiko akibat meningkatnya volatilitas global maupun domestik.
Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management Genta Wira Anjalu menilai penurunan Indeks Harga Saham Gabungan dan pelemahan mata uang mencerminkan sikap kehati-hatian pasar. Dilansir dari Investasi, penekanan pada alokasi aset dinilai jauh lebih krusial dibandingkan mencoba memprediksi titik terendah pasar saat ini.
"Walau begitu, konteks pasar saat ini berbeda karena investor juga menghadapi volatilitas nilai tukar dan ketidakpastian arah suku bunga acuan global. Oleh karena itu, pendekatan investasi sekarang harus berbasis diversifikasi dan resilience," ujar Genta Wira Anjalu, Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management.
Genta merekomendasikan instrumen alternatif seperti obligasi korporasi, instrumen pasar uang, dan emas sebagai aset aman. Bagi investor agresif, ia menyarankan porsi saham sebesar 60%ÔÇö75%, sementara investor moderat cukup mengalokasikan 40%ÔÇö50% pada instrumen ekuitas.
"Untuk investor tertentu, aset berbasis dolar AS atau instrumen yang memiliki natural hedge terhadap pelemahan rupiah juga mulai kembali diperhatikan," kata Genta Wira Anjalu.
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menekankan pentingnya penyebaran risiko agar kerugian tidak terjadi pada seluruh instrumen sekaligus. Ia juga menyarankan pembelian aset secara bertahap mengingat sulitnya menentukan harga terendah di tengah fluktuasi pasar.
"Jadi idealnya dilakukan pembelian secara berkala, bukan menunggu waktu turun," kata Rudiyanto, Direktur Panin Asset Management.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menambahkan bahwa sektor saham yang berorientasi ekspor masih memiliki daya tarik. Namun, ia menyarankan peningkatan porsi aset lindung nilai pada valuta asing dan surat berharga negara.
"Namun, porsi lindung nilai perlu ditambah seperti emas, valas dolar AS, obligasi pemerintah tenor pendek-menengah, atau reksadana pasar uang," tutur Budi Frensidy, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia.
Budi merinci bahwa reksadana pasar uang menawarkan imbal hasil sekitar 4%ÔÇö6%, sementara surat berharga negara berada di kisaran 6%ÔÇö8% per tahun. Ia menyarankan investor konservatif untuk menempatkan mayoritas aset pada instrumen pendapatan tetap dan emas.
CEO and Founder Finansialku Melvin Mumpuni mengingatkan pentingnya objektivitas dalam meninjau kembali imbal hasil dan risiko. Menurutnya, rebalancing harus dilakukan dengan perhitungan matang untuk menjaga keselarasan dengan target keuangan jangka panjang.
"Tujuannya adalah membangun portofolio investasi yang sesuai dengan tujuan keuangan atau investasi," tandas Melvin Mumpuni, CEO and Founder Finansialku.