Stok MinyaKita Terbatas Akibat Terhambatnya Pasokan dari Produsen

Stok MinyaKita Terbatas Akibat Terhambatnya Pasokan dari Produsen
Foto: Ilustrasi Stok MinyaKita Terbatas Akibat Terhambatnya Pasokan dari Produsen.

PT Perum Bulog mengonfirmasi bahwa ketersediaan stok MinyaKita di seluruh wilayah Indonesia saat ini mengalami keterbatasan yang sangat signifikan pada Senin (27/4/2026). Masalah ini dipicu oleh terhentinya suplai dari pihak produsen yang belum kembali menyalurkan komoditas tersebut kepada Bulog.

Kadiv Perencanaan Operasi dan Analisa Harga Pasar Bulog, Muhammad Wawan Hidayanto, menjelaskan bahwa kondisi ini menjadi rintangan utama dalam menjalankan instruksi pemerintah untuk melakukan distribusi minyak goreng subsidi ke masyarakat. Fakta ini turut dilansir dari Money berdasarkan laporan resmi dalam rapat koordinasi nasional.

"Untuk stok MinyaKita komersial di beberapa wilayah memang sangat terbatas, belum ada tambahan pasokan lagi dari produsen," kata Wawan, Kadiv Perencanaan Operasi dan Analisa Harga Pasar Bulog.

Ketersediaan MinyaKita sangat bergantung pada pemenuhan Domestic Market Obligation (DMO) oleh produsen minyak sawit mentah (CPO). Volume stok di lapangan dilaporkan fluktuatif, mengikuti naik turunnya angka ekspor CPO yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan produsen.

Selain kendala pasokan, Bulog menghadapi tantangan geografis yang berat dalam proses pengiriman, terutama untuk wilayah pegunungan dan kepulauan. Tingginya biaya logistik menjadi hambatan krusial karena barang harus melalui beberapa titik transit seperti Jayapura sebelum mencapai daerah terpencil.

"Beberapa wilayah juga belum terjangkau karena tadi yang kami sampaikan seperti beras, gudang Bulog tidak berada, tidak ada di seluruh wilayah, jadi ini cukup menghambat," tutur Wawan, Kadiv Perencanaan Operasi dan Analisa Harga Pasar Bulog.

Wilayah Maluku dan Papua menjadi area yang paling terdampak oleh kendala geografis ini. Sebagai solusi, Bulog saat ini sedang mengintensifkan koordinasi dengan Kementerian Perdagangan serta Badan Pangan Nasional guna mencari jalan keluar terkait pemerataan distribusi.

"Terkait untuk distribusinya karena agar apa, bisa mencapai seluruh seluruh wilayah," tutur Wawan, Kadiv Perencanaan Operasi dan Analisa Harga Pasar Bulog.

Wawan juga menyoroti adanya ketimpangan antara subsidi ongkos kirim dari produsen dengan biaya riil di lapangan. Produsen hanya memberikan subsidi transportasi sekitar Rp 900 per liter, sementara biaya pengiriman yang sebenarnya bisa mencapai lebih dari Rp 2.000 per liter.

Faktor lain yang memperlambat serapan adalah keterbatasan modal dari mitra Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Hal ini diperparah dengan lokasi gudang Bulog yang tidak menjangkau seluruh titik distribusi sehingga biaya angkut membengkak.

"Beberapa wilayah belum terjangkau karena ongkos distribusi dari gudang terlalu mahal," bunyi paparan Wawan, Kadiv Perencanaan Operasi dan Analisa Harga Pasar Bulog.

Hingga saat ini, Bulog mencatatkan total distribusi MinyaKita telah mencapai angka 92.265 kiloliter. Sebesar 45 persen atau sekitar 41.000 kiloliter dari total volume tersebut telah disalurkan melalui pasar rakyat dan jaringan pasar SP2KP.

"Minyak Kita sendiri, kami sudah mendistribusikan sejumlah 92.000 kiloliter," kata Wawan, Kadiv Perencanaan Operasi dan Analisa Harga Pasar Bulog.

Artikel terkait

Rekomendasi