Ketersediaan hewan kurban di wilayah Jawa Barat menjelang Iduladha 2026 dipastikan berada dalam kondisi aman serta mencukupi kebutuhan masyarakat. Berdasarkan data Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSIKHNAS), Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat adanya lonjakan pasokan untuk komoditas domba dan sapi dibandingkan tahun lalu.
Volume domba yang disiapkan untuk Iduladha tahun ini diperkirakan menembus 223.812 ekor, seperti dilansir dari Purwasuka. Jumlah tersebut memperlihatkan pertumbuhan signifikan dari stok tahun sebelumnya yang berhenti di angka 187.395 ekor.
Kenaikan pasokan yang tidak kalah besar juga terjadi pada komoditas sapi. Pada musim kurban kali ini, jumlah sapi yang tersedia di Jawa Barat menyentuh 120.916 ekor, naik dari periode Iduladha tahun lalu yang tercatat sebanyak 99.565 ekor.
Sebaliknya, persediaan kambing diprediksi berada di angka 61.578 ekor. Jumlah ini merekam sedikit penurunan jika disandingkan dengan perolehan tahun lalu yang mampu mencapai 63.319 ekor.
Untuk kelompok kerbau, otoritas terkait mendata ada 700 ekor yang siap dipasarkan. Angka ini melonjak tajam dari stok tahun lalu yang hanya tersedia sebanyak 336 ekor.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jawa Barat, Linda Al Amin, memaparkan bahwa melimpahnya pasokan hewan kurban tahun ini didorong oleh sisa stok ternak tahun lalu yang belum sepenuhnya diserap oleh pasar.
Menurut Linda, langkah pengawasan terhadap pergerakan lalu lintas hewan kurban sebenarnya sudah berjalan sejak Januari 2026. Pemantauan ini memanfaatkan sistem aplikasi iSIKHNAS guna memastikan seluruh komoditas dagang lolos syarat administrasi dan kesehatan.
Aparat daerah juga menguji kelengkapan berkas kepemilikan ternak, termasuk Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) serta sertifikat veteriner (SV). Petugas di lapangan pun memastikan seluruh hewan kurban telah mendapatkan fasilitas vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK).
"Saat ini pemeriksaan hewan kurban masih dilakukan dengan peninjauan langsung ke lokasi-lokasi lapak penjualan hewan kurban dan kandang-kandang peternak. Melihat langsung kondisi kesehatan ternak, kemudian diberi stiker tanda sehat kurban sebagai tanda telah diperiksa," kata Linda, Rabu (20/5/2026).
Rangkaian inspeksi ini sengaja digelar demi membendung risiko penularan penyakit hewan menular yang bisa merusak kesehatan ternak sekaligus mengancam higienitas daging yang akan dikonsumsi oleh publik.
Beberapa jenis penyakit yang kini masuk dalam radar pengawasan ketat pemerintah meliputi penyakit mulut dan kuku (PMK), penyakit kulit berbenjol atau lumpy skin disease (LSD), hingga kasus infeksi cacing pada hewan ternak.
Mendekati hari pemotongan, tim kesehatan hewan dijadwalkan melaksanakan pemeriksaan antemortem atau evaluasi sebelum penyembelihan. Prosedur ini mencakup inspeksi fisik, verifikasi umur ternak, hingga pemantauan gejala klinis penyakit.
Tim pemeriksa bakal memastikan organ-organ krusial seperti cuping hidung, area mulut, mata, serta bagian anggota gerak berada dalam status sehat dan memenuhi syarat sah sebagai hewan kurban.
Fase pengawasan tidak berhenti di situ saja karena petugas akan melanjutkan pemeriksaan postmortem selepas hewan disembelih. Evaluasi menyasar bagian karkas, daging, hingga organ dalam seperti hati, paru-paru, limpa, dan ginjal.
Langkah berlapis ini ditempuh demi menjamin pasokan daging kurban yang didistribusikan kepada masyarakat memenuhi standar aman, sehat, utuh, dan halal sepanjang momen perayaan Iduladha 2026.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat turut meminta warga agar memilih dan membeli hewan kurban di titik-titik penjualan resmi yang berada di bawah pengawasan petugas kesehatan. Hewan yang dinyatakan lolos uji umumnya dibekali stiker atau penanda sehat sebagai bukti otentik kelayakan.
Melihat grafik kenaikan stok hewan kurban tahun ini, pihak pemerintah menyatakan optimistis bahwa seluruh keperluan masyarakat menyambut Iduladha dapat terpenuhi tanpa adanya hambatan pasokan.