SRBI Disorot! Bos Himbara Ungkap Likuiditas Rp80 T, Kredit Tetap Kencang 2026

SRBI Disorot! Bos Himbara Ungkap Likuiditas Rp80 T, Kredit Tetap Kencang 2026
Foto: SRBI Disorot! Bos Himbara Ungkap Likuiditas Rp80 T, Kredit Tetap Kencang 2026. (Illustration by Pexels)

Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) memberikan klarifikasi terkait penempatan dana perbankan pelat merah pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Ketua Himbara, Putrama Wahju Setyawan, menegaskan bahwa porsi dana bank BUMN di instrumen tersebut tergolong sangat kecil.

Putrama menjelaskan bahwa prioritas utama bank-bank negara tetap pada fungsi intermediasi atau penyaluran kredit kepada masyarakat. Hal ini terlihat dari rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) yang menyentuh angka 90 persen per Maret 2026.

Berikut adalah rincian pertumbuhan kredit bank anggota Himbara dibandingkan rata-rata industri nasional:

  • BNI (BBNI): Mencatatkan pertumbuhan kredit paling progresif sebesar 24 persen secara tahunan.
  • Bank Mandiri (BMRI): Mengikuti di posisi kedua dengan kenaikan penyaluran kredit mencapai 17 persen.
  • BRI (BBRI): Berhasil menjaga tren positif dengan pertumbuhan kredit di angka 12 persen.
  • BTN (BBTN): Tumbuh stabil pada kisaran 12 persen sejalan dengan fokus pada sektor pembiayaan hunian.

Data tersebut menunjukkan bahwa bank-bank besar milik pemerintah mampu mencatatkan pertumbuhan dua digit. Capaian ini melampaui rata-rata pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang berada di angka 9 persen pada periode yang sama.

Porsi Dana Himbara di SRBI

Dalam pertemuan dengan Komisi XI DPR RI, Putrama membeberkan perbandingan data antara total pasar SRBI dengan dana yang dimiliki Himbara. Ia menyebutkan bahwa total outstanding SRBI pada Maret 2026 mencapai Rp922 triliun.

Dari total tersebut, nilai penempatan dana seluruh bank anggota Himbara hanya sekitar Rp80 triliun. Angka ini dinilai tidak signifikan jika dibandingkan dengan total instrumen yang beredar di pasar uang.

Tabel berikut merangkum data penempatan dana dan perbandingan pasar SRBI:

Kategori Data Nilai (Maret 2026)
Total Outstanding SRBI Nasional Rp922 Triliun
Penempatan Dana Himbara Rp80 Triliun
LDR Rata-rata Himbara 90%

Data di atas mempertegas bahwa perbankan negara lebih banyak memutar dananya ke sektor riil melalui kredit daripada menyimpannya di instrumen Bank Indonesia. Strategi ini diambil untuk tetap mendukung roda perekonomian nasional agar tetap bergerak kencang.

Tantangan Kompetisi dengan Surat Berharga

Di sisi lain, Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menyoroti adanya persaingan yang ketat antara penyaluran kredit dengan instrumen negara. Wakil Ketua Perbanas, Nixon L.P. Napitupulu, menyebut SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN) sebagai kompetitor utama perbankan.

Persaingan ini terjadi karena SRBI dan SBN menawarkan imbal hasil atau bunga yang menarik dengan risiko yang sangat rendah. Kondisi tersebut membuat perbankan cukup kesulitan dalam menarik minat debitur atau mengelola likuiditas secara kompetitif.

Nixon menyarankan agar pemerintah dan regulator mengatur standar suku bunga yang tepat untuk setiap instrumen surat utang. Ia berharap keberadaan instrumen ini tidak menggerus atau menjadi "kanibal" bagi target pertumbuhan kredit bank.

Berdasarkan laporan terbaru Bank Indonesia, pertumbuhan kredit nasional pada April 2026 tercatat sebesar 9,98 persen secara tahunan. Sektor kredit investasi menjadi motor penggerak utama dalam capaian intermediasi perbankan tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi