Studi Ungkap Spons Cuci Piring Simpan 362 Jenis Bakteri

Studi Ungkap Spons Cuci Piring Simpan 362 Jenis Bakteri
Foto: Ilustrasi Studi Ungkap Spons Cuci Piring Simpan 362 Jenis Bakteri.

Spons cuci piring sering kali menjadi alat bantu utama yang mempermudah berbagai aktivitas pembersihan di area dapur. Mulai dari membersihkan peralatan makan yang kotor, mengelap permukaan meja, hingga mengeringkan tumpahan air.

Namun, di balik kegunaannya yang fungsional, alat ini berpotensi menjadi sarang kuman jika digunakan dalam jangka waktu lama tanpa penanganan yang tepat. Sifat spons yang menyerap air membuatnya selalu berada dalam kondisi lembap.

Kelembapan tinggi tersebut menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme. Kondisi ini diperparah oleh sisa makanan, lapisan minyak, dan cairan yang tertinggal di dalam pori-pori spons.

Dilansir dari Medcom, penelitian tahun 2017 yang diterbitkan dalam Scientific Reports mengungkapkan bahwa terdapat 362 jenis bakteri yang dapat hidup di dalam spons dapur. Kepadatan mikroorganisme tersebut bahkan mampu mencapai angka 45 miliar per sentimeter persegi.

Temuan ini memosisikan spons yang secara kasat mata terlihat bersih sebagai salah satu benda dengan tingkat kontaminasi tertinggi di area tempat tinggal. Spons yang dipaksakan untuk terus bekerja akan kehilangan efektivitasnya.

Seorang ahli dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di industri pembersihan, Rhonda Wilson, menjelaskan bahwa penggantian spons secara berkala sangat penting dilakukan. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan risiko perpindahan bakteri ke permukaan benda lain.

Langkah perawatan yang tepat dapat diterapkan untuk memperpanjang masa pakai spons sebelum akhirnya harus dibuang. Wilson merekomendasikan penerapan sistem rotasi dalam penggunaan sehari-hari.

Spons yang dialokasikan khusus untuk mencuci peralatan makan harus dipisahkan dari spons untuk menyeka meja atau membersihkan noda berat. Pembagian tugas ini dinilai efektif dalam mencegah terjadinya kontaminasi silang.

Pencegahan kontaminasi silang menjadi sangat krusial, terutama setelah spons bersentuhan dengan sisa bahan makanan mentah seperti daging. Meski begitu, Wilson mengingatkan bahwa tindakan perawatan tidak membuat spons dapat dipakai selamanya.

Faktor lokasi penyimpanan turut memengaruhi tingkat kebersihan alat pembersih ini. Pengguna disarankan untuk selalu memeras spons hingga tuntas agar tidak ada sisa air yang menggenang setelah pemakaian selesai.

Spons sebaiknya tidak dibiarkan terendam di dalam bak cuci piring atau ditempatkan di area yang sering terkena cipratan air. Pemanfaatan wadah penyimpanan khusus dapat membantu memperbaiki sirkulasi udara sehingga spons menjadi lebih cepat kering.

Teknik Sterilisasi Menggunakan Suhu Tinggi

Proses pembersihan secara berkala menjadi kunci penting untuk menekan populasi bakteri yang berkembang biak di dalam spons. Pemanfaatan suhu panas merupakan salah satu metode yang dinilai efektif.

Wilson menyarankan untuk memanaskan spons di dalam microwave selama durasi 1 hingga 2 menit. Alternatif lain adalah menempatkannya pada rak bagian atas mesin pencuci piring dengan mengaktifkan siklus air panas.

Metode sanitasi juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan cairan pemutih pakaian yang telah diencerkan bersama air bersih. Prosesnya dilakukan dengan melarutkan 1 sendok makan cairan pemutih ke dalam 1 galon air.

Spons kemudian direndam di dalam larutan pemutih tersebut selama kurang lebih 5 menit. Setelah proses perendaman selesai, spons wajib dibilas menggunakan air mengalir hingga benar-benar bersih.

Artikel terkait

Rekomendasi