Siswa Katolik Raih Prestasi Lulusan Terbaik di SMK Muhammadiyah Pekalongan

Siswa Katolik Raih Prestasi Lulusan Terbaik di SMK Muhammadiyah Pekalongan
Foto: Ilustrasi Siswa Katolik Raih Prestasi Lulusan Terbaik di SMK Muhammadiyah Pekalongan.

Seorang siswa keturunan Tionghoa beragama Katolik bernama Revano berhasil meraih predikat lulusan terbaik kedua jurusan Teknik dan Bisnis Sepeda Motor di SMK Muhammadiyah Pekalongan pada acara pelepasan kelulusan kelas 12 di sebuah hotel di Kota Pekalongan, Selasa (12/5/2026).

Keberhasilan Revano menjadi sorotan karena ia merupakan satu-satunya siswa nonmuslim di sekolah berbasis Islam tersebut, sebagaimana dilansir dari Cahaya. Selain mencatatkan prestasi akademik yang gemilang, ia juga berhasil mendapatkan kesempatan magang ke Jepang melalui program beasiswa dari Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).

Motivasi awal Revano mendaftar di sekolah tersebut didasari oleh ketertarikannya pada bidang otomotif. Fasilitas dan kualitas pembelajaran teknik sepeda motor di institusi pendidikan ini dinilai sebagai salah satu yang terbaik di wilayah Pekalongan.

"Memilih di SMK ini karena yang ada jurusan teknik sepeda motor di Pekalongan kan ada dua, Yang bagus kan SMK Muhammadiyah, saya pilih di sini," kata Revano, Siswa Kelulusan SMK Muhammadiyah Pekalongan.

Selama tiga tahun menempuh studi, Revano mengaku lingkungan sekolah sangat inklusif. Hubungan antar siswa dan tenaga pendidik berjalan dengan harmonis tanpa adanya tindakan diskriminatif.

"Kesannya baik, teman-teman dan guru semuanya baik-baik," ujar Revano, Siswa Kelulusan SMK Muhammadiyah Pekalongan.

Hak pendidikan keagamaan Revano juga dipenuhi oleh pihak sekolah dengan mendatangkan guru agama Katolik secara khusus. Layanan ini memastikan setiap hak spiritual siswa nonmuslim tetap terakomodasi dengan baik.

"Di sini pembelajarannya enak. Setelah lulus mau berangkat ke Jepang," tambah Revano, Siswa Kelulusan SMK Muhammadiyah Pekalongan.

Pihak sekolah juga dipuji karena berhasil menciptakan atmosfer belajar yang aman dari tindakan perundungan. Revano menegaskan interaksi sosial sesama murid di sekolah masih berada dalam batas wajar.

"Selama di sekolah tidak ada diskriminasi apapun, paling teman bercanda masih normal," ucap Revano, Siswa Kelulusan SMK Muhammadiyah Pekalongan.

Latar belakang pemilihan sekolah ini sempat mendatangkan keraguan bagi pihak keluarga. Ibu Revano, Silvia, mengakui sempat merasa khawatir mengenai adaptasi anaknya di lingkungan yang mayoritas muslim.

"Saya percayakan ke SMK Muhammadiyah karena keinginan anak sendiri. Anak saya itu lebih suka praktik, penginnya otomotif jurusannya teknik sepeda motor," kata Silvia, Ibu Kandung Revano.

Keraguan tersebut akhirnya hilang setelah Silvia berkomunikasi langsung dengan pimpinan sekolah yang memberikan jaminan kebebasan beragama. Berdasarkan informasi yang dihimpun pihak keluarga, keunggulan program otomotif sekolah ini menjadi faktor penguat keputusan mereka.

"Saya tanya ke anak saya bagaimana, kamu bersedia tidak, karena kita ada di lingkungan muslim. Dia jawab tidak apa-apa," ujar Silvia, Ibu Kandung Revano.

Silvia mengapresiasi keterbukaan pihak sekolah dalam menyambut anaknya sejak masa pendaftaran. Komitmen pemenuhan pelajaran agama bagi siswa nonmuslim dibuktikan secara nyata sepanjang masa pembelajaran.

"Kebetulan dari kepala sekolah menyambut baik, nanti pelajaran agama menyesuaikan. Ya sudah saya tambah mantap menyekolahkan anak saya di SMK Muhammadiyah," lanjut Silvia, Ibu Kandung Revano.

Kehadiran Silvia dalam acara pelepasan tersebut diwarnai rasa haru saat memberikan testimoni di atas panggung. Ia menyampaikan apresiasi mendalam karena anaknya terbebas dari isu rasisme selama sekolah.

"Selama sekolah sampai kelas 3 tidak ada persoalan, tidak ada pembulian maupun rasis. Pelajaran agama juga mendapatkan dengan baik. Anak saya Katolik mendapatkan pelajaran Katolik juga, tidak ada paksaan harus ikut pelajaran agama Islam," ungkap Silvia, Ibu Kandung Revano.

Disiplin dan motivasi belajar Revano dilaporkan meningkat drastis sejak masuk ke jenjang pendidikan menengah kejuruan ini. Perubahan positif tersebut terlihat dari kerajinan mengumpulkan tugas akademik dan ketepatan waktu hadir di kelas.

"Terus terang di SMK ini dia malah lebih semangat. Waktu SD dan SMP dia kurang, kadang tugas tidak dikerjakan. Di SMK ini dia malah semangat kerjakan tugas, tidak pernah terlambat sekolah," katanya Silvia, Ibu Kandung Revano.

Keterampilan praktis Revano dalam memperbaiki kendaraan bermotor kini telah diakui oleh lingkungan tempat tinggalnya. Keahlian otomotif yang berkembang pesat membuatnya sering dimintai bantuan oleh para tetangga.

"Dia kan jurusan sepeda motor, sampai sekarang bisa servis motor sendiri. Bahkan kadang dipercaya sama tetangga. Saya sangat puas sekali," tambah Silvia, Ibu Kandung Revano.

Pengalaman positif ini membuat keluarga Revano berharap masyarakat luas tidak ragu dengan sistem pendidikan yang inklusif di lembaga keagamaan lain. Sikap ramah yang diterima menjadi bukti nyata toleransi yang berjalan baik.

"Untuk teman nonmuslim jangan takut memasukkan anaknya ke Muhammadiyah karena akan diterima dengan baik," tutur Silvia, Ibu Kandung Revano.

Pihak manajemen sekolah menegaskan bahwa fokus utama pendidikan adalah pengembangan potensi siswa tanpa memandang perbedaan keyakinan. Revano dinilai mampu menjadi figur motivator bagi rekan sejawatnya melalui keahlian otomotif yang dimiliki.

"Perlakuan kami sama. Ternyata dia bagus, dia ahli dalam sepeda motor, bisa memotivasi teman-temannya," ujar Khusnawan, Kepala SMK Muhammadiyah Pekalongan.

Penyediaan guru agama khusus merupakan standardisasi sekolah dalam menjaga kemajemukan sosioreligius siswa. Kebijakan ini diambil demi memberikan kepastian hak konstitusional siswa dalam memperoleh pendidikan agama yang dianut.

"Muhammadiyah itu luas. Pendidikan Muhammadiyah untuk semuanya, siapa saja. Pendidikan agama kami pilah, kami carikan guru agamanya, tetap ada fasilitas agama," kata Khusnawan, Kepala SMK Muhammadiyah Pekalongan.

Artikel terkait

Rekomendasi