Kondektur Ketiduran Shinkansen di Jepang Alami Keterlambatan Tiga Menit

Kondektur Ketiduran Shinkansen di Jepang Alami Keterlambatan Tiga Menit
Foto: Ilustrasi Kondektur Ketiduran Shinkansen di Jepang Alami Keterlambatan Tiga Menit.

Perusahaan perkeretaapian JR East divisi Aomori menyampaikan permohonan maaf setelah kereta cepat Shinkansen Hayabusa 24 mengalami keterlambatan selama tiga menit pada Senin (27/4/2026). Insiden ini dipicu oleh seorang kondektur yang terlambat bangun dari tidur siang di Stasiun Shin-Hakodate-Hokuto.

Keterlambatan jadwal ini terjadi pada layanan kereta yang menghubungkan rute Stasiun Shin-Hakodate-Hokuto menuju Tokyo. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detik Travel, sang kondektur seharusnya mempersiapkan keberangkatan kereta yang dijadwalkan meluncur pada pukul 13.52 siang waktu setempat.

Kronologi bermula saat kru tersebut beristirahat di ruang karyawan dan menyalakan alarm agar terbangun tepat waktu. Namun, ia tertidur sangat lelap hingga tidak mendengar peringatan alarm tersebut dan baru terbangun pada pukul 13.50 siang, hanya dua menit sebelum jadwal keberangkatan.

Akibat waktu yang sangat mendesak, kondektur tersebut gagal mencapai posisinya tepat waktu sehingga kereta tidak bisa diberangkatkan sesuai jadwal semula. Pihak manajemen JR East segera merespons insiden ini dengan mengeluarkan pernyataan resmi guna menjaga standar disiplin operasional mereka.

"Kami dengan tulus memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan kami," tulis pihak perusahaan dalam keterangan resminya.

Manajemen menegaskan komitmennya untuk melakukan evaluasi agar kelalaian serupa tidak terulang kembali di masa depan. Meskipun durasi keterlambatan hanya tiga menit, perusahaan tetap melakukan investigasi mendalam terhadap prosedur istirahat karyawan demi menjamin ketepatan waktu yang menjadi ciri khas layanan mereka.

Reaksi publik di Jepang terbagi dalam dua sudut pandang, di mana sebagian warganet menilai keterlambatan tiga menit merupakan hal manusiawi. Sementara itu, kelompok lain mendukung ketegasan perusahaan untuk mencegah terjadinya penurunan kedisiplinan yang berpotensi membahayakan keselamatan perjalanan kereta api.

Pihak berwenang memastikan bahwa seluruh operasional tetap berjalan aman tanpa adanya laporan cedera pada penumpang selama insiden tersebut berlangsung.

Artikel terkait

Rekomendasi