Sekolah TK Inspirasi Indonesia menyediakan layanan pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga pemulung dan pekerja serabutan di Kelurahan Bintara Jaya, Bekasi Barat, Kota Bekasi. Fasilitas belajar ini terus beroperasi pada Selasa (5/5/2026) meski hanya memiliki satu tenaga pendidik di ruang kelas sederhana.
Lembaga pendidikan yang berdiri sejak tahun 2017 ini berlokasi di tengah permukiman padat di RT 003/RW 008, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Bangunan yang semula hanya berupa bedeng kayu kini telah direnovasi menjadi lebih layak untuk menampung puluhan siswa yang belajar setiap hari.
Pendiri TK Inspirasi Indonesia, Firda Budhiardjo, menjelaskan bahwa pemanfaatan lahan untuk sekolah ini menggunakan properti milik asisten rumah tangganya. Transformasi bangunan dilakukan guna meningkatkan kenyamanan para siswa selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung.
"Dulunya masih bedeng dan ala kadarnya. Alhamdulillah sekarang sudah renovasi, jadi lebih nyaman untuk anak-anak belajar," ujar Firda.
Kegiatan belajar di ruang berukuran 3x4 meter tersebut dibagi menjadi dua sesi, yakni pagi dan menjelang siang. Meskipun berstatus sekolah gratis, kurikulum yang diterapkan diklaim setara dengan lembaga pendidikan anak usia dini berbayar pada umumnya.
"Alhamdulillah di TK Inspirasi Indonesia kurikulumnya sama dengan sekolah-sekolah yang berbayar," kata Firda.
Seluruh aktivitas pengajaran di sekolah ini ditangani secara mandiri oleh Lia Sri Mulyani. Sebagai satu-satunya guru, ia mengelola sekitar 25 siswa aktif meskipun hanya menerima honorarium bulanan yang sangat terbatas.
"Saya dulu pernah dapat bayaran Rp 2 juta per bulan, terus pernah juga tidak sama sekali. Nah, sekarang tiap bulan dapat Rp 300.000," ujar Lia.
Kondisi lingkungan yang dinamis menjadi tantangan tersendiri bagi Lia dalam menjaga fokus belajar anak-anak. Ia menerapkan metode pengajaran sabar dan pengaturan posisi duduk yang strategis untuk mengarahkan perilaku siswa yang aktif bergerak dan bicara.
"Tantangannya banyak sekali. Soalnya anak-anak di sini aktif banget dalam gerakan dan berbicara. Jadi kami harus sabar," kata Lia.
Lia menyatakan rasa syukur dan kebahagiaannya bisa mengabdi di lingkungan tersebut. Ia membagikan pengetahuannya mulai dari menulis hingga berhitung tanpa memungut biaya dari orang tua siswa yang mayoritas bekerja sebagai pemilah rongsokan.
"Saya senang karena bisa mengajarkan anak-anak mewarnai, menulis, membaca, calistung, meskipun di sini gratis," tutur Lia.
Motivasi Lia menjadi pengajar muncul saat anaknya menempuh pendidikan di sekolah yang sama. Ketertarikan tersebut mendorongnya untuk berkontribusi langsung bagi pendidikan anak-anak di sekitar tempat tinggalnya.
"Saya senang lihat anak-anak di sini rajin sekolah. Jadi saya ingin sekalian mengajar juga," ucap Lia.
Pendidik yang hanya lulusan sekolah dasar ini terus mengembangkan kompetensinya melalui berbagai pelatihan PAUD. Baginya, kemampuan dasar seperti membaca dan berhitung adalah perlindungan utama agar anak-anak tidak mudah dimanfaatkan atau ditipu oleh pihak lain di masa depan.
"Pendidikan itu sangat penting. Kalau kita bisa baca, kita tidak akan tersesat. Kalau bisa berhitung, tidak akan mudah ditipu. Kalau tidak berpendidikan, kita bisa dibodohi orang," ujar Lia.
Lia menekankan pentingnya kegigihan bagi anak-anak dalam meraih cita-cita meski tumbuh dalam keterbatasan ekonomi. Ia menjadikan pengalaman pribadinya yang pernah dipandang sebelah mata sebagai pemacu semangat untuk terus mengabdi.
"Saya juga tidak pernah menyerah meski pernah disepelekan. Tapi saya malah jadi lebih semangat," tambah Lia.