Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (Kasudin SDA) Jakarta Selatan, Santo, memberikan tanggapan terkait kondisi infrastruktur pipa air di ibu kota yang kian memprihatinkan. Ia mengakui bahwa banyak jaringan pipa air di Jakarta kini sudah termakan usia dan dalam kondisi yang usang.
Kondisi ini disinyalir menjadi penyebab munculnya gangguan pada infrastruktur lain. Salah satu dampak nyatanya adalah peristiwa amblasnya permukaan jalan di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Kamis (28/5) lalu.
Risiko Kerusakan di Persilangan Saluran Jalan
Santo menjelaskan bahwa bagian yang paling rentan mengalami kerusakan adalah pipa pada posisi crossing atau persilangan saluran di bawah badan jalan. Area ini memiliki beban yang berat karena terus-menerus dilintasi oleh berbagai jenis kendaraan setiap harinya.
Potensi kejadian serupa di masa depan sangat mungkin terulang kembali jika tidak ada penanganan serius. Hal ini dikarenakan beban dari kendaraan roda dua maupun roda empat mempercepat kerapuhan saluran yang berada tepat di bawah aspal.
Faktor utama yang meningkatkan risiko jalan amblas di Jakarta meliputi:
- Usia pipa air yang rata-rata sudah melampaui masa pakai optimal.
- Beban kendaraan yang melintas di atas persilangan saluran (crossing) air.
- Kurangnya pengecekan rutin pada infrastruktur bawah tanah yang sudah tua.
Informasi di atas merangkum faktor-faktor teknis yang menjadi penyebab rapuhnya struktur jalan akibat kondisi pipa air di bawahnya.
Perlunya Kolaborasi Antarinstansi untuk Pengecekan
Banyak dari pipa di titik persilangan tersebut diperkirakan telah berusia lebih dari 25 tahun. Santo menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan ulang secara menyeluruh untuk memetakan kondisi fisik pipa-pipa tua tersebut.
Proses pengecekan ini tidak bisa dilakukan oleh pihak SDA sendirian. Dibutuhkan kerja sama dengan instansi lain yang memiliki kompetensi relevan agar hasil evaluasi lebih akurat dan terintegrasi.
Salah satu mitra utama dalam pengecekan ini adalah Dinas Bina Marga. Sinergi ini diperlukan karena masalah saluran air tersebut bersinggungan langsung dengan ketahanan struktur jalan raya yang menjadi kewenangan Bina Marga.
Fakta Mengenai Usia Pipa yang Mencapai Satu Abad
Pernyataan Santo tersebut sejalan dengan informasi yang diungkapkan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno. Rano mengaku terkejut saat mengetahui data mengenai usia jaringan pipa air yang ada di Jakarta.
Berdasarkan presentasi dari PAM JAYA, sebagian besar pipa air di ibu kota ternyata memiliki usia rata-rata mencapai 100 tahun. Hal ini disampaikan Rano saat menghadiri acara di kawasan Jakarta Pusat pada Sabtu (30/5).
Berikut adalah ringkasan mengenai perbandingan kondisi dan proyeksi infrastruktur air di Jakarta:
| Aspek Infrastruktur | Kondisi Saat Ini | Dampak yang Ditimbulkan |
|---|---|---|
| Estimasi Usia Pipa | 25 hingga 100 tahun | Material menjadi rapuh dan mudah pecah |
| Lokasi Paling Rawan | Persilangan jalan (crossing) | Permukaan jalan amblas (sinkhole) |
| Langkah Antisipasi | Audit lintas instansi | Mencegah kerusakan infrastruktur lebih luas |
Tabel ini menggambarkan betapa krusialnya masalah usia pipa terhadap stabilitas jalan raya di wilayah DKI Jakarta.
Rano Karno menilai fenomena jalan amblas, seperti yang terjadi di Lenteng Agung, merupakan konsekuensi logis dari material yang sudah lapuk. Menurutnya, publik tidak perlu heran jika kejadian serupa berpotensi muncul di lokasi lain di Jakarta.
Kondisi pipa yang sudah berusia satu abad dipastikan sangat rentan terhadap tekanan. Oleh karena itu, modernisasi jaringan pipa air menjadi tantangan besar yang harus segera dihadapi oleh pemerintah daerah demi keamanan warga.