Sebanyak 183 orang dari rombongan SD Muhammadiyah Plus Salatiga melaksanakan kegiatan field trip ke Jakarta dengan menyewa pesawat Garuda Indonesia pada 14 April 2024. Agenda tahunan yang viral di media sosial ini bertujuan memberikan pengalaman langsung mengenai moda transportasi udara kepada para siswa kelas 5.
Kegiatan ini dilansir dari Detik Travel telah menjadi agenda rutin sekolah sejak 15 tahun lalu. Pihak sekolah membagi rombongan ke dalam dua titik keberangkatan, yakni melalui Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang dan Yogyakarta International Airport (YIA) karena keterbatasan kapasitas kursi pesawat.
Kepala SD Muhammadiyah Plus Salatiga, Dwi Wuryandari mengonfirmasi bahwa video yang beredar di media sosial tersebut merupakan siswanya yang sedang menempuh perjalanan studi ke ibu kota.
"Kemarin kita berangkat tanggal 14 April," kata Ndari, Kepala SD Muhammadiyah Plus Salatiga.
Program ini menyasar siswa kelas 5 dengan total peserta mencapai 168 murid dari enam rombongan belajar beserta para guru pendamping. Sejak tahun 2011, sekolah secara konsisten menggunakan layanan maskapai nasional tersebut untuk mengangkut para siswa.
"Ini program rutin tahunan yang dilaksanakan sejak 2011 di siswa kelas 5. Keseluruhan kemarin rombongan kami sejumlah 183, 168 itu siswa dari enam rombel dan selebihnya adalah guru," ujar Ndari.
Latar belakang pemilihan pesawat sebagai moda transportasi bermula dari kurikulum materi sekolah yang membahas tentang berbagai jenis alat angkut. Ndari menjelaskan bahwa sekolah ingin siswa memahami prosedur penerbangan secara nyata.
"Karena waktu itu memang ada materi yang berkaitan dengan moda transportasi di kelas 5, tercetuslah ide itu, gimana kalau kita kenalkan saja langsung bagaimana prosedur-prosedurnya, kan ada yang jelas berbeda (prosedur naik pesawat dengan moda transportasi lain)," tutur Ndari.
Siswa diajarkan tahapan mulai dari pemeriksaan barang di bandara hingga menunjukkan tiket kepada petugas. Pengalaman ini dinilai lebih efektif dibandingkan hanya melalui materi di buku pelajaran atau video di kelas.
"Ketika masuk bandara harus bagaimana, ada pengecekan barang-barang harus dilepas, kemudian menunjukkan tiket, kemudian dicek-ceknya itu, jadi anak-anak itu merasakan betul pengalaman keberangkatan dari awal seperti apa, tidak hanya lewat buku atau menonton video," lanjut Ndari.
Rombongan yang berangkat dari Semarang menyewa satu pesawat secara penuh. Sementara itu, kelompok lainnya berangkat dari Yogyakarta dengan jadwal penerbangan yang lebih awal.
"Yang carter satu pesawat full yang dari Semarang, berangkat pukul 06.55 WIB, kalau yang dari Jogja juga sekitar pukul 06.00 WIB, lebih awal dari yang di Semarang," terang Ndari.
Keistimewaan perjalanan tahun ini adalah beberapa siswa diizinkan melihat ruang kokpit pesawat. Pihak maskapai memberikan apresiasi tersebut karena sekolah telah menjadi pelanggan setia selama belasan tahun.
"Dari Garuda pun, karena memang sudah menjadi pelanggan setia setiap tahun dengan jumlah yang banyak, kemarin beberapa anak-anak kami, meskipun tidak semuanya, diberikan kesempatan untuk masuk di bagian pilot, melihat peralatan-peralatan yang ada di bagian pilot itu," ungkap Ndari.
Setibanya di Jakarta, siswa mengunjungi Gedung DPR-MPR RI untuk mempelajari wawasan kebangsaan dan bertemu anggota dewan. Selain itu, mereka juga menyambangi Kantor PP Muhammadiyah sebagai bagian dari kunjungan organisasi.
"Kunjungan ke Gedung DPR-MPR RI berkaitan dengan materi kelas 5 tentang wawasan kebangsaan. Kami sekali lagi menunjukkan ini loh yang biasanya kalian baca, DPR, MPR tugasnya ini, kemudian gedungnya ini dan seterusnya. Anak-anak bisa melihat langsung bertemu dengan anggota dewan di sana," ucap Ndari.
Edukasi di gedung parlemen tersebut diharapkan dapat menumbuhkan cita-cita dan semangat nasionalisme pada diri setiap murid. Siswa diperlihatkan lokasi pelantikan presiden hingga area duduk tamu kedutaan besar.
"Anak-anak melihat tempatnya ketika sidang di mana, tempatnya ketika presiden itu dilantik di mana, duduknya para tamu-tamu kedubes itu di mana. Jadi harapan kita itu ketika anak-anak melihat tempat itu membuat mereka terinspirasi dan meningkatkan rasa cinta tanah air," imbuh Ndari.
Agenda berlanjut ke Masjid Istiqlal, Dunia Fantasi (Dufan), dan Ocean Dream Samudera Ancol untuk rekreasi. Selama di Jakarta, para siswa menginap di sebuah hotel di kawasan Menteng guna melatih kedisiplinan dan kemandirian.
"Di situ ya anak-anak harus belajar mandiri, bagaimana mengatur waktu, kapan dia harus tidur, besok pagi-bagia banget juga harus bisa bangun sendiri. Alhamdulillah kemarin semua sudah bisa disiplin kumpul tepat waktu jam 06.00 WIB pagi semua sudah berkumpul," ujar Ndari.
Perjalanan pulang dilakukan pada Rabu (15/4) sore menggunakan kereta api eksekutif dari Stasiun Gambir. Sebanyak empat gerbong kereta dipenuhi oleh seluruh rombongan hingga tiba di Semarang pada malam harinya.
"Pulangnya naik kereta api eksekutif. Kami menggunakan empat gerbong penuh dengan siswa kami, berangkat dari Gambir jam 16.45 WIB sampai di Semarang Tawang itu pukul 22.00 WIB," tutur Ndari.
Sebelum kembali ke Salatiga, rombongan menyempatkan diri singgah di Masjid Baiturrahman Semarang dan tiba di lokasi tujuan pada Kamis (16/4) dini hari. Ndari menekankan bahwa program ini membawa nilai karakter yang kuat bagi anak-anak.
"Kegiatan field trip ini mengajarkan banyak sekali nilai seperti nilai religius, kemandirian, bertanggung jawab, hingga membangun karakter anak," ucap Ndari.
Terkait pendanaan, sekolah mematok biaya sekitar Rp 3 juta yang telah disosialisasikan kepada wali murid sejak awal pendaftaran sekolah. Pihak sekolah menyediakan fasilitas tabungan khusus bagi orang tua untuk meringankan beban biaya tersebut.
"Kalau berkaitan dengan biaya kurang lebihnya Rp 3 juta. Orang tua yang masuk ke SD itu sudah tahu, dari sebelum masuk menjadi keluarga di SD Muhammadiyah Plus, kami ada sosialisasi program," jelas Ndari.
Persiapan biaya ini sudah direncanakan sejak siswa masih duduk di kelas 1 SD. Tabungan tersebut bersifat sukarela dan tidak mengikat secara nominal.
"Program itu sudah sudah kami sampaikan dari awal, bahwa nanti ananda ketika di kelas 5 akan ada program naik pesawat ke Jakarta, sehingga orang tua sudah bisa mempersiapkan sejak pertama kali masuk," lanjut Ndari.
Sekolah memastikan bahwa sisa dana tabungan yang melebihi biaya perjalanan akan dikembalikan kepada orang tua sebagai uang saku siswa. Sebaliknya, kekurangan biaya dapat dilunasi menjelang keberangkatan.
"Dari sekolah itu ada program menabung khusus untuk persiapan fieldtrip. Program menabung itu tidak mengikat, kami berikan kebebasan kepada orang tua berapa pun nominalnya, dari sekolah siap memfasilitasi untuk menabung," ujar Ndari.
Skema tabungan ini bertujuan agar seluruh siswa kelas 5 dapat mengikuti agenda edukasi tersebut tanpa kendala finansial yang mendadak.
"Andai dari uang tabungan itu belum mencukupi, pasti orang tua akan menutup kekurangan itu. Andai tabungannya ada yang lebih pun, ya nanti akan kami kembalikan sebagai uang saku atau mungkin untuk membeli peralatan lain yang diperlukan," imbuh Ndari.