Lulusan Perguruan Tinggi Pilih Sektor Nonformal Akibat Sempitnya Lapangan Kerja

Lulusan Perguruan Tinggi Pilih Sektor Nonformal Akibat Sempitnya Lapangan Kerja
Foto: Ilustrasi Lulusan Perguruan Tinggi Pilih Sektor Nonformal Akibat Sempitnya Lapangan Kerja.

Semakin banyak lulusan perguruan tinggi beralih ke usaha mandiri dan sektor gig economy akibat ketidakpastian dunia kerja serta sempitnya peluang kerja formal pada Rabu, 15 April 2026. Fenomena ini dipicu oleh syarat rekrutmen yang kompleks dan batasan usia yang menghambat para pencari kerja.

Dilansir dari Megapolitan, kondisi tersebut memaksa para lulusan mencari alternatif realistis untuk bertahan hidup. Salah satunya dialami oleh Yanti, seorang lulusan Diploma III Administrasi dan Keuangan yang kini membuka jasa setrika setelah kesulitan kembali ke dunia kerja formal.

Yanti mengungkapkan bahwa hambatan utama yang ia temui saat melamar pekerjaan kembali pada tahun 2023 adalah batasan usia maksimal yang ditetapkan oleh banyak perusahaan.

ÔÇ£Melamar Posisi staf pun dibatasi maksimal 27 tahun. Melamar posisi selevel supervisor, terhambat sertifikat brevet, yang mana waktu saya bekerja saya tidak terpikirkan untuk mengambil kursus pajak," kata Yanti, Pelaku Usaha Mandiri.

Selain faktor usia, ia juga merasa bingung dengan persyaratan penampilan fisik yang diterapkan untuk posisi yang tidak berhadapan langsung dengan publik.

ÔÇ£Selain itu hambatan lainnya adalah persyaratan "good looking" membuat saya semakin bingung, saat 2023 itu cukup banyak loker di back office namun meminta persyaratan itu," katanya.

Keputusan Yanti untuk berwiraswasta juga didorong oleh beban ekonomi keluarga sebagai generasi sandwich yang harus membiayai anak dan orang tua.

ÔÇ£Gaji suami hanya cukup untuk keluarga kecil kami dan tabungan kami yang belum seberapa," kata Yanti.

Yanti kini fokus mengembangkan jasa setrika dengan layanan antar jemput gratis untuk menarik minat pelanggan di lingkungannya.

ÔÇ£Terlebih anak tunggal kami akan mulai masuk ke jenjang sekolah dasar, dimana biaya biaya pendidikan mulai akan keluar satu per satu," ujarnya.

Ia kini tidak lagi berencana mencari pekerjaan sesuai latar belakang pendidikannya dan memilih untuk memperluas usahanya sendiri.

ÔÇ£Ditambah saya ada service tambahan lain yang membuat customer saya tertarik dan jadi langganan adalah jasa antar jemput gratis tanpa minimal order," katanya.

Yanti berharap usahanya dapat terus berkembang agar bisa memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

ÔÇ£Untuk bekerja kembali sesuai latar belakang pendidikan, saya sudah skip hal itu mengingat ingin berupaya membesarkan usaha saya dan membuka lapangan kerja bagi orang orang disekitar saya," ungkap Yanti.

Kisah serupa dialami Nadia Murti yang meninggalkan profesi guru PAUD karena penghasilan di bawah upah minimum yang tidak mencukupi kebutuhan hidup.

ÔÇ£Bukannya tidak bersyukur. Tetapi dengan gaji di bawah UMR (upah minimum regional) saya sebagai guru (waktu itu) terkadang masih harus mengeluarkan modal sendiri untuk membuat media pembelajaran anak. Sehingga, gaji tidak cukup untuk kebutuhan hidup," kata Nadia Murti, Pengusaha.

Nadia kemudian beralih ke berbagai lini bisnis mulai dari furnitur hingga peternakan ayam bersama suaminya.

"Yang membuat saya banting stir ke bidang yang sekarang karena saya menikah dengan suami yang memiliki kesamaan visi, misi dan tujuan," kata Nadia.

Meski penghasilannya kini bisa mencapai puluhan juta rupiah, Nadia mengakui bahwa pemasukan dari sektor usaha ini tidak selalu stabil setiap bulannya.

ÔÇ£Kadang borongan sebulan dapet Rp 13 juta atau Rp 30 juta itu belum termasuk dua bidang usaha lainnya," katanya.

Ia menjelaskan bahwa beberapa bidang usaha yang ia jalankan sangat bergantung pada musim tertentu.

ÔÇ£Tapi kalau mebel itu pemasukannya musiman. Jadi kadang ada pemasukannya kadang ya beberapa bulan enggak ada," tambahnya.

Sementara itu, Furqon Fauzi yang merupakan sarjana Sastra Inggris memilih menjadi pedagang kaki lima setelah puluhan lamaran kerjanya ditolak pascapandemi.

ÔÇ£Seingat saya ada sekitar 52 perusahaan yang saya lamar dan masukan CV. Namun, tidak ada satupun yang menerima saya," kata Furqon Fauzi, Pedagang Nasi Bebek.

Furqon menyatakan rasa syukurnya masih bisa bertahan hidup melalui usaha kuliner meskipun impian lainnya belum tercapai.

"Bisa hidup dan bisa bertahan hingga detik ini saja saya sudah sangat bersyukur. Ttidak apa-apa belum mapan, tidak apa-apa belum bisa memenuhi segudang impian yang penting jangan menyerah," ujarnya.

Pengamat ketenagakerjaan UGM, Tadjuddin Noer, menyebutkan data Agustus 2025 menunjukkan sektor informal mendominasi lapangan kerja sebesar 60 persen.

ÔÇ£Pekerja yang bekerja di sektor formal itu hanya 40% menurut data Angkatan Kerja Agustus 2025 karena yang 2026 belum terbit. Sektor informalnya itu 60 persen," kata Tadjuddin Noer, Pengamat Ketenagakerjaan UGM.

Ia menambahkan bahwa ketidaksesuaian latar belakang pendidikan dengan kebutuhan industri memaksa sarjana masuk ke sektor prekariat.

ÔÇ£Jadi menyebabkan kemudian para sarjana yang tidak masuk ke pasar kerja itu terpaksa mereka mengadu nasib di sektor informal atau prekariat," katanya.

Kepala Pusat Makroekonomi Indef, Rizal Taufikurahman, mengingatkan bahwa gig economy hanya berfungsi sebagai penyangga sementara karena rendahnya perlindungan pekerja.

ÔÇ£Namun sifatnya hanya substitusi jangka pendek karena didominasi pekerjaan berproduktivitas rendah-menengah tanpa perlindungan memadai," ujar Rizal Taufikurahman, Ekonom Indef.

Artikel terkait

Rekomendasi