Sejumlah lulusan sarjana di Indonesia memilih menekuni jalur karier di luar bidang pendidikan formal mereka dengan membangun usaha mandiri serta bekerja di sektor informal. Fenomena ini diperkuat oleh data serapan tenaga kerja yang didominasi sektor nonformal hingga mencapai 60 persen pada Rabu (15/4/2026).
Dwyas Ayu merupakan salah satu pelaku usaha yang memutuskan meninggalkan profesi pendidik meski lulus dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Tidar Magelang pada 2014. Dilansir dari Megapolitan, Ayu kini mengelola bisnis produk daur ulang bernama Suh Upcycle yang telah dirintisnya sejak tahun 2013.
Perjalanan Ayu bermula dari keterlibatannya dalam komunitas lingkungan di Salatiga pada 2011 yang memicu minatnya pada pengolahan limbah. Sebelum fokus pada usaha jahit, ia sempat mencoba berbagai pekerjaan, termasuk menjadi staf di gudang distributor cat.
"Kami mendaur ulang sampah plastik menjadi tas dan dompet. Kami juga memberi workshop kepada masyarakat tentang pentingnya mencintai lingkungan," kata Ayu, Pemilik Suh Upcycle.
Ayu mengawali produksi tas dari jeans bekas di kamar kos dengan peralatan yang sangat terbatas. Ia mempelajari teknik menjahit secara mandiri tanpa latar belakang pendidikan mode formal untuk memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang.
"Pada awalnya saya yang pada saat itu belum memiliki mesin jahit sendiri harus meminjam mesin kepada teman satu komunitas saya. Saya kerjakan tas-tas dari jeans bekas tersebut di kamar kos dengan alat seadanya," katanya Ayu, Pemilik Suh Upcycle.
Kini usaha tersebut menjadi sumber penghasilan utama keluarganya selain dari pendapatan suami. Meskipun bekerja tidak sesuai dengan gelar akademisnya, Ayu merasa masa kuliah telah membentuk ketahanan mental dan kemampuan komunikasinya dalam berbisnis.
"Saat ini alhamdulillah kami bisa memenuhi kebutuhan pokok kami dari usaha jahit ini, selain dari penghasilan suami," kata Ayu, Pemilik Suh Upcycle.
Ayu menegaskan bahwa dirinya belum memiliki rencana untuk kembali ke dunia pendidikan sesuai jurusan kuliahnya. Fokus utamanya saat ini adalah memperbesar skala usaha agar dapat membuka lapangan pekerjaan bagi lebih banyak orang di masa depan.
"Setidaknya dengan berkuliah, saya mendapat banyak bekal untuk menyikapi hidup, berkomunikasi dengan banyak orang dengan baik, dan tahan tempaan," ujarnya Ayu, Pemilik Suh Upcycle.
Ia merasa nyaman dengan pilihan hidupnya dan terus berinovasi untuk menjaga keberlangsungan bisnis daur ulangnya tersebut.
"Sampai saat ini saya senang dengan pekerjaan ini, dan belum terpikir untuk bekerja sesuai pendidikan saya. Saya justru terus berpikir untuk mengembangkan usaha saya agar terus naik dan besar hingga bisa menyerap banyak tenaga kerja," ujar Ayu, Pemilik Suh Upcycle.
Kisah serupa dialami oleh Furqon Fauzi, lulusan Sastra Inggris tahun 2010 yang harus berpindah haluan menjadi pedagang kuliner setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) saat pandemi. Sebelum berjualan, Furqon sempat bekerja sebagai tenaga pemasar di perusahaan otomotif selama hampir sepuluh tahun.
"Karena pada saat saya jadi fresh graduate, yang ada dipikiran saya hanya satu, yang penting saya bisa segera bekerja, yang penting saya bisa secepatnya ngebahagiain orangtua," kata Furqon Fauzi, Pelaku Usaha Kuliner.
Setelah kehilangan pekerjaan formalnya, ia sempat mengirimkan puluhan lamaran kerja ke berbagai perusahaan namun tidak mendapatkan respons positif. Kondisi tersebut memaksanya untuk menjadi pengemudi ojek daring selama satu setengah tahun demi menyambung hidup.
"Seingat saya ada sekitar 52 perusahaan yang saya lamar dan masukan CV. Namun tidak ada satupun yang menerima saya. jangankan menerima, dipanggil untuk interview saja tidak," kata Furqon Fauzi, Pelaku Usaha Kuliner.
Keahlian memasak yang ia miliki akhirnya menjadi penyelamat ketika ia memutuskan membuka gerai makanan sendiri. Namun, transisi dari pekerja kantoran menjadi pedagang jalanan memberinya tantangan fisik dan mental yang berat.
"Hanya saja, tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa kemampuan memasak saya ini malah akan menolong saya di saat-saat jatuh," katanya Furqon Fauzi, Pelaku Usaha Kuliner.
Furqon mengaku sempat ingin menyerah karena menghadapi kerugian, barang dagangan yang basi, hingga perlakuan tidak menyenangkan dari pembeli di awal usahanya. Tantangan lain di lapangan mencakup pungutan liar dari berbagai organisasi kemasyarakatan di lokasi berjualan.
"Awal-awal jualan saya hampir mau menyerah. capek masaknya, capek nungguin pembeli, enggak laku, makanannya basi, dimaki-maki pembeli, ditipu teman sendiri, ditipu karyawan, jualan minus," ungkap Furqon Fauzi, Pelaku Usaha Kuliner.
Meskipun harus membayar sejumlah uang setiap hari kepada pihak-pihak tertentu, Furqon tetap bertahan menjalankan usahanya demi stabilitas ekonomi keluarga.
"Tiap ormas ada yang minta Rp 2.000 ada yang minta Rp 5.000, bahkan ada yang Rp 10.000 setiap hari," kata Furqon Fauzi, Pelaku Usaha Kuliner.
Pengamat ketenagakerjaan, Tadjuddin Noer, menjelaskan bahwa struktur pasar kerja Indonesia memang membuat banyak sarjana masuk ke sektor informal. Berdasarkan data Agustus 2025, sektor formal hanya mampu menyerap sekitar 40 persen tenaga kerja.
"Secara garis besar, pekerja di sektor formal itu hanya sekitar 40 persen. Sisanya, sekitar 60 persen berada di sektor informal, termasuk di dalamnya pekerja prekariat," ujar Tadjuddin Noer, Pengamat Ketenagakerjaan.
Menurut Tadjuddin, bekerja di sektor informal seperti menjadi pengemudi ojek daring jauh lebih baik bagi para lulusan perguruan tinggi daripada tidak memiliki pekerjaan sama sekali.
"Mereka bekerja misalnya jadi ojol, jadi grab. Tidak ada salahnya karena juga income-nya di sana lumayan daripada menganggur," ujarnya Tadjuddin Noer, Pengamat Ketenagakerjaan.
Psikolog Talissa Carmelia menambahkan bahwa kemampuan adaptasi merupakan kunci utama bagi sarjana yang bekerja lintas bidang. Integrasi pengetahuan dari latar belakang pendidikan yang berbeda dapat menjadi nilai tambah yang meningkatkan daya saing individu di pasar kerja.
"Jika ia mampu menerima dan memproses perbedaaan yang dihadapi dengan terbuka dan dewasa, maka ia akan menjadi pribadi yang tetap percaya diri dengan pengalaman dan kemampuannya," ujar Talissa Carmelia, Psikolog.
Talissa menilai bahwa kesuksesan saat ini tidak lagi terpaku pada kesesuaian gelar akademis, melainkan pada bagaimana seseorang memanfaatkan pengalamannya untuk mencapai target yang realistis.
"Ia bisa memanfaatkan pendidikan yang berbeda menjadi added value dalam proses kerja sehingga kesuksesan menjadi sebuah target yang sangat realistis," katanya Talissa Carmelia, Psikolog.