Lulusan Sarjana Beralih ke Sektor Informal Akibat Keterbatasan Lapangan Kerja

Lulusan Sarjana Beralih ke Sektor Informal Akibat Keterbatasan Lapangan Kerja
Foto: Ilustrasi Lulusan Sarjana Beralih ke Sektor Informal Akibat Keterbatasan Lapangan Kerja.

Sejumlah lulusan perguruan tinggi kini beralih ke sektor informal akibat sulitnya menembus pasar kerja formal dan dampak pemutusan hubungan kerja pascapandemi, sebagaimana dilaporkan oleh Megapolitan pada Rabu (15/4/2026). Fenomena ini menyoroti ketimpangan antara jumlah pencari kerja terdidik dengan ketersediaan posisi di perusahaan.

Kisah tersebut dialami oleh Furqon Fauzi, seorang lulusan Sastra Inggris Universitas Islam Bandung angkatan 2010. Setelah sempat bekerja di dunia korporasi selama satu dekade, ia kini harus menyambung hidup dengan berjualan sebagai pedagang kaki lima setelah puluhan lamaran kerjanya ditolak.

"Seingat saya ada sekitar 52 perusahaan yang saya lamar dan memasukkan CV. Namun tidak ada satu pun yang menerima saya. Jangankan menerima, dipanggil untuk interview saja tidak." kata Furqon saat dihubungi, Rabu (15/4/2026).

Sebelum terjun ke dunia usaha kuliner, Furqon telah mencoba melamar ke berbagai instansi, mulai dari perusahaan penerbitan hingga lembaga diplomatik internasional. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil hingga ia memutuskan untuk menurunkan ekspektasi kariernya.

"Saya juga pernah mencoba apply ke kantor embassy, namun sayangnya tidak pernah berhasil." ujarnya.

Kondisi ekonomi selama pandemi Covid-19 memperburuk situasi ketika Furqon menjadi korban pemutusan hubungan kerja. Hal ini memaksa banyak pekerja di sektor formal kehilangan sumber penghasilan utama secara mendadak.

"Sejujurnya, saya tidak pernah berharap akan bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang kuliah saya," katanya.

Furqon menjelaskan bahwa pada masa sulit tersebut, perusahaan cenderung melakukan efisiensi besar-besaran alih-alih menambah personel baru. Kondisi ini membuat persaingan kerja menjadi sangat ketat dan tertutup bagi pelamar baru.

"Karena pada saat itu Jangankan menerima karyawan baru, karyawan yang lama pun harus dikeluarkan." ujarnya.

Setelah menganggur beberapa bulan, ia sempat bertahan hidup dengan menjadi pengemudi ojek daring selama 1,5 tahun. Ia kemudian mencoba peruntungan di bisnis kuliner, meski harus menghadapi berbagai hambatan operasional dan kerugian di masa awal.

"Awal-awal jualan saya hampir mau menyerah. Capek memasaknya, capek menunggu pembeli, dagangan enggak laku, makanannya basi, dimaki-maki pembeli, ditipu teman sendiri, ditipu karyawan, jualan minus terus," ujarnya.

Tantangan di lapangan juga mencakup pungutan liar dari berbagai pihak yang harus ia tanggung setiap harinya. Furqon mengaku harus menyisihkan uang untuk keamanan lingkungan demi bisa terus berdagang.

"Tiap ormas ada yang minta 2.000 ada yang minta 5.000 bahkan ada yang minta 10.000 setiap hari," kata dia.

Menanggapi fenomena ini, pengamat ketenagakerjaan Tadjuddin Noer menyatakan bahwa data Angkatan Kerja Agustus 2025 menunjukkan sektor formal hanya mampu menyerap 40 persen tenaga kerja. Hal ini menyebabkan mayoritas pekerja terdorong ke sektor informal yang mencapai 60 persen.

"Pekerja yang bekerja di sektor formal itu hanya 40% menurut data Angkatan Kerja Agustus 2025 karena yang 2026 belum terbit. Sektor informalnya itu 60 persen," ujarnya saat dihubungi, Rabu (15/4/2026).

Tadjuddin menambahkan bahwa adanya ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan sarjana yang dominan di bidang non-teknis dengan kebutuhan industri memperburuk daya serap kerja. Fenomena prekariat menjadi pilihan terakhir bagi para lulusan perguruan tinggi.

"Jadi menyebabkan kemudian para sarjana yang tidak masuk ke pasar kerja itu terpaksa mereka mengadu nasib di sektor informal atau prekariat," katanya.

Dukungan ekonomi juga datang dari sektor ekonomi gig yang berperan sebagai penyerap tenaga kerja sementara. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, Rizal Taufikurahman, menyebut sektor ini belum menjadi solusi jangka panjang karena minimnya perlindungan.

"Namun sifatnya hanya substitusi jangka pendek karena didominasi pekerjaan berproduktivitas rendah-menengah tanpa perlindungan memadai," ujar Rizal.

Meskipun penuh tantangan, Furqon kini mengaku lebih tenang dengan profesinya sebagai pedagang karena merasa hasil usahanya memberikan nilai lebih bagi kehidupannya. Ia memilih untuk menerima realitas pasar kerja yang tidak menentu tersebut.

"Duit hasil jualan terasa lebih manis dan lebih berkah, daripada duit gaji kantoran." katanya.

Artikel terkait

Rekomendasi