Sarjana Lintas Bidang Manfaatkan Pendidikan untuk Membangun Usaha Mandiri

Sarjana Lintas Bidang Manfaatkan Pendidikan untuk Membangun Usaha Mandiri
Foto: Ilustrasi Sarjana Lintas Bidang Manfaatkan Pendidikan untuk Membangun Usaha Mandiri.

Sejumlah lulusan sarjana memilih untuk menekuni jalur karier di luar bidang pendidikan formal mereka guna menghadapi tantangan ekonomi dan keterbatasan lapangan kerja pada Rabu (15/4/2026). Fenomena ini dialami oleh para pelaku usaha kecil yang berhasil mengubah hobi dan keterampilan teknis menjadi sumber penghasilan utama, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.

Dwyas Ayu merupakan salah satu profil yang memilih meninggalkan profesi guru meski lulus dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Tidar Magelang pada 2014. Ia mendirikan brand bernama Suh Upcycle sejak 2013 yang fokus pada pengolahan limbah pakaian menjadi produk baru yang bernilai ekonomi.

ÔÇ£Kami mendaur ulang sampah plastik menjadi tas dan dompet. Kami juga memberi workshop kepada masyarakat tentang pentingnya mencintai lingkungan,ÔÇØ kata Ayu saat dihubungi Kompas.com, Rabu (15/4/2026).

Ayu memulai usahanya dari nol dengan keterbatasan modal dan alat saat masih berstatus sebagai mahasiswa di kamar kosnya. Ia mengandalkan kemampuan menjahit yang dipelajari secara mandiri tanpa latar belakang pendidikan formal di bidang kriya.

ÔÇ£Pada awalnya saya yang pada saat itu belum memiliki mesin jahit sendiri harus meminjam mesin kepada teman satu komunitas saya. Saya kerjakan tas-tas dari jeans bekas tersebut di kamar kos dengan alat seadanya,ÔÇØ katanya.

Meski tidak bekerja sesuai ijazahnya, Ayu meyakini bahwa proses perkuliahan tetap memberikan landasan berpikir dan ketahanan mental yang penting bagi seorang pengusaha. Bisnisnya kini telah bertahan selama lebih dari satu dekade dan mampu menopang kebutuhan pokok keluarganya.

ÔÇ£Saat ini alhamdulillah kami bisa memenuhi kebutuhan pokok kami dari usaha jahit ini, selain dari penghasilan suami,ÔÇØ kata dia.

Ayu menegaskan komitmennya untuk terus membesarkan bisnis pengolahan limbah tersebut tanpa ada rencana untuk kembali ke dunia pendidikan sesuai jurusan kuliahnya. Ia justru berambisi memperluas jangkauan usahanya agar dapat membantu menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat luas.

ÔÇ£Sampai saat ini saya senang dengan pekerjaan ini, dan belum terpikir untuk bekerja sesuai pendidikan saya. Saya justru terus berpikir untuk mengembangkan usaha saya agar terus naik dan besar hingga bisa menyerap banyak tenaga kerja,ÔÇØ ujar Ayu.

Penegasan mengenai nilai pendidikan dalam membentuk karakter juga disampaikan Ayu sebagai respon atas pandangan umum mengenai kesuksesan karier. Baginya, pendidikan tinggi memberikan kemampuan komunikasi yang sangat berguna dalam menjalankan bisnis sehari-hari.

ÔÇ£Setidaknya dengan berkuliah, saya mendapat banyak bekal untuk menyikapi hidup, berkomunikasi dengan banyak orang dengan baik, dan tahan tempaan,ÔÇØ ujarnya.

Kisah serupa dialami oleh Furqon Fauzi yang terpaksa beralih haluan setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari perusahaan otomotif saat pandemi melanda. Setelah gagal menembus puluhan lamaran kerja, lulusan Sastra Inggris tahun 2010 ini akhirnya mengandalkan kemampuan memasak untuk bertahan hidup.

ÔÇ£Karena pada saat saya jadi fresh graduate, yang ada dipikiran saya hanya satu, yang penting saya bisa segera bekerja, yang penting saya bisa secepatnya ngebahagiain orangtua," kata dia saat dihubungi, Rabu.

Furqon sempat mencoba peruntungan di berbagai perusahaan besar sebelum akhirnya menyadari ketatnya persaingan di pasar kerja formal. Upaya melamar pekerjaan yang masif tidak membuahkan hasil hingga ia harus bekerja sebagai pengemudi ojek daring selama lebih dari setahun.

ÔÇ£Seingat saya ada sekitar 52 perusahaan yang saya lamar dan masukan CV. Namun tidak ada satupun yang menerima saya. jangankan menerima, dipanggil untuk interview saja tidak," kata dia.

Kemampuan memasak yang awalnya hanya hobi rumahan justru menjadi penyelamat ekonomi bagi Furqon di masa sulit. Ia mulai memberanikan diri membuka usaha kuliner meskipun harus berhadapan dengan berbagai risiko dan tantangan fisik di lapangan.

ÔÇ£Hanya saja, tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa kemampuan memasak saya ini malah akan menolong saya di saat-saat jatuh," katanya.

Perjalanan wirausaha kulinernya tidak langsung berjalan mulus karena ia harus menghadapi berbagai masalah operasional dan keamanan. Furqon mengaku pernah mengalami kerugian hingga penipuan selama menjalankan usaha di pinggir jalan.

ÔÇ£Awal-awal jualan saya hampir mau menyerah. capek masaknya, capek nungguin pembeli, enggak laku, makanannya basi, dimaki-maki pembeli, ditipu teman sendiri, ditipu karyawan, jualan minus," ungkapnya.

Selain masalah internal, tantangan eksternal berupa pungutan liar dari berbagai pihak juga menjadi beban tambahan bagi keberlangsungan usahanya. Setiap hari, ia harus mengalokasikan biaya lebih untuk menghadapi berbagai organisasi massa di lokasi berjualan.

"Tiap ormas ada yang minta Rp 2.000 ada yang minta Rp 5.000, bahkan ada yang Rp 10.000 setiap hari," kata dia.

Pengamat ketenagakerjaan Tadjuddin Noer memberikan perspektif mengenai data Angkatan Kerja Indonesia yang menunjukkan dominasi sektor informal sebesar 60 persen per Agustus 2025. Menurutnya, peralihan sarjana ke pekerjaan informal seperti pengemudi ojek daring adalah langkah logis untuk menghindari pengangguran.

ÔÇ£Secara garis besar, pekerja di sektor formal itu hanya sekitar 40 persen. Sisanya, sekitar 60 persen berada di sektor informal, termasuk di dalamnya pekerja prekariat,ÔÇØ ujar Tadjuddin saat dihubungi, Rabu.

Tadjuddin menambahkan bahwa penghasilan di sektor informal terkadang lebih menjanjikan dibandingkan menunggu pekerjaan formal yang tidak kunjung datang. Hal ini menjadi pilihan realistis bagi lulusan baru untuk tetap memiliki daya beli di tengah situasi ekonomi yang dinamis.

ÔÇ£Mereka bekerja misalnya jadi ojol, jadi grab. Tidak ada salahnya karena juga income-nya di sana lumayan daripada menganggur,ÔÇØ ujarnya.

Psikolog Talissa Carmelia menekankan bahwa fleksibilitas dan keterbukaan terhadap peluang baru merupakan kunci utama bagi individu untuk tetap percaya diri. Kesuksesan jangka panjang kini sangat bergantung pada kemampuan seseorang dalam mengintegrasikan berbagai pengalaman menjadi nilai tambah profesional.

ÔÇ£Jika ia mampu menerima dan memproses perbedaaan yang dihadapi dengan terbuka dan dewasa, maka ia akan menjadi pribadi yang tetap percaya diri dengan pengalaman dan kemampuannya," ujar Talissa kepada Kompas.com, Rabu.

Talissa berpendapat bahwa gelar akademis yang berbeda dengan bidang pekerjaan saat ini justru dapat memperkaya perspektif dalam bekerja. Pengetahuan lintas disiplin tersebut dianggap sebagai modal kuat untuk meningkatkan daya saing individu di pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif.

"Ia bisa memanfaatkan pendidikan yang berbeda menjadi added value dalam proses kerja sehingga kesuksesan menjadi sebuah target yang sangat realistis," katanya.

Artikel terkait

Rekomendasi