Pasar ponsel pintar di kawasan Asia Tenggara mengalami penyusutan pada awal tahun ini. Laporan terbaru firma riset pasar Omdia mencatat total pengiriman smartphone di Asia Tenggara pada kuartal I-2026 berada di angka 21,6 juta unit.
Jumlah tersebut menunjukkan penurunan sebesar 9 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, yang mampu mencapai 23,7 juta unit, seperti dikutip dari Tekno.
Di tengah kelesuan pasar ini, Samsung berhasil mengamankan posisi puncak sebagai vendor dengan volume pengiriman tertinggi. Perusahaan teknologi asal Korea Selatan ini mendistribusikan sebanyak 4,6 juta unit perangkat ke kawasan ini.
Pencapaian tersebut membuat Samsung menguasai pangsa pasar sekitar 21 persen. Riset Omdia menunjukkan bahwa pengiriman gawai Samsung di Asia Tenggara tumbuh sebesar 4 persen secara year-on-year (YoY).
Keberhasilan lini Samsung disokong oleh performa penjualan perangkat flagship Galaxy S26 Series. Selain itu, kekuatan penjualan produk kelas menengah melalui lini Galaxy A Series turut menjadi pendorong utama.
Pertumbuhan positif ini menjadikan Samsung sebagai satu-satunya produsen gawai yang mencatatkan kenaikan performa. Sebaliknya, empat vendor besar lain di bawahnya justru kompak mengalami kemerosotan volume pengiriman.
Oppo, Xiaomi, Transsion yang membawahi Infinix, Tecno, serta Itel, hingga Vivo mengalami penurunan shipment. Kondisi lesu ini berdampak langsung pada penurunan nilai pangsa pasar mereka di Asia Tenggara selama kuartal I-2026.
Data yang dihimpun Omdia menggunakan metode sell-in shipment. Artinya, angka yang tersaji merujuk pada kuantitas produk yang disalurkan produsen ke distributor, gerai, atau saluran penjualan, bukan volume yang terjual ke konsumen.
| Peringkat | Vendor | Pengiriman Kuartal I-2025 (juta unit) | Pangsa Pasar Kuartal I-2025 (persen) | Pengiriman Kuartal I-2026 (juta unit) | Pangsa Pasar Kuartal I-2026 (persen) | Pertumbuhan YoY (persen) |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Samsung | 4,4 | 19 | 4,6 | 21 | 4 | Oppo |
| 5,1 | 21 | 4,2 | 20 | -17 | Xiaomi | 4,2 |
| 18 | 3,7 | 17 | -12 | Transsion | 3,7 | 16 |
| 3,4 | 16 | -10 | Vivo | 2,8 | 12 | 2,1 |
| 9 | -7 | Merek lain | 3,5 | 15 | 3,7 | 17 |
| 7 | Total | 23,7 | 100 | 21,6 | 100 | -9 |
Harga Jual Rata-Rata Mengalami Kenaikan
Meskipun volume distribusi gawai secara keseluruhan menurun, harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) smartphone di Asia Tenggara justru mencetak rekor baru.
Omdia mencatat rata-rata harga jual menyentuh angka 349 dollar AS atau berkisar Rp 6,1 juta per unit. Nilai ini melonjak 19 persen dari tahun sebelumnya yang bertahan di bawah 300 dollar AS atau sekitar Rp 5,3 juta.
Kenaikan harga ini dipicu oleh lonjakan biaya komponen memori seperti DRAM dan NAND. Hal ini mendongkrak ongkos produksi ponsel pintar secara signifikan di pabrik.
Dampak kenaikan harga komponen ini paling dirasakan pada segmen ponsel murah (entry-level) hingga kelas menengah. Sebab, porsi biaya memori mengambil porsi yang cukup besar dalam struktur produksi gawai kelas tersebut.
Kondisi ini memaksa para produsen mengambil langkah taktis. Vendor mulai menaikkan harga jual ke pasar, memangkas spesifikasi fitur tertentu, atau memperketat suplai produk demi mempertahankan margin keuntungan perusahaan.
ÔÇ£Pada akhirnya, vendor smartphone kini lebih fokus menjaga profitabilitas dan menaikkan ASP, ketimbang sekadar mengejar pertumbuhan volume,ÔÇØ kata Research Manager Omdia, Le Xuan Chiew.
Omdia memproyeksikan fluktuasi harga serta keterbatasan pasokan perangkat telekomunikasi ini masih akan berjalan dalam jangka pendek. Produsen masih harus menyeimbangkan pasokan komponen dengan daya beli masyarakat yang sensitif terhadap pergeseran harga.