Warga di sekitar Jalan Kepanduan 2, Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara, mengeluhkan penumpukan sampah yang memicu bau menyengat dan mengganggu kenyamanan pada Rabu, 15 April 2026. Area yang dulunya merupakan ruang terbuka hijau tersebut kini dilaporkan berubah menjadi tempat pembuangan sampah yang aktif.
Dilansir dari Megapolitan, tumpukan limbah ini telah merusak fungsi lahan yang sebelumnya menjadi tempat warga beraktivitas. Seorang warga setempat bernama Mawar menyebutkan bahwa kawasan tersebut pada masa lalu dipenuhi oleh berbagai pepohonan besar dan memiliki fasilitas pendukung aktivitas warga.
"Dulu itu kan lahan terbuka hijau, ya kan. Banyak pepohonan, pohon-pohon gede tuh, terus ada pohon-pohon pisang juga. Ada empang juga dulu," ujarnya Mawar.
Perubahan status lahan dilaporkan mulai terjadi pada awal tahun 2025 dengan adanya penutupan menggunakan bangunan semi permanen. Mawar menambahkan bahwa setelah dilakukan pengurugan, lokasi tersebut langsung beralih fungsi menjadi area pembuangan sampah hingga saat ini.
"Iya tiba-tiba kayak gitu. Awalnya ditutup-tutup seng tuh, bedeng-bedeng gitu," tuturnya Mawar.
Gangguan kesehatan dan kenyamanan menjadi kekhawatiran utama masyarakat di sekitar Jalan Kepanduan 2. Lokasi yang dulunya asri kini dianggap tidak lagi menunjang gaya hidup sehat warga akibat bau yang ditimbulkan.
"Kalau keluhan ya bau, kurang nyaman. Yang tadinya buat aktivitas warga, berolahraga, jadi kurang sehat," ungkapnya Mawar.
Keluhan serupa disampaikan oleh Jayadi yang menyoroti volume sampah di lokasi tersebut yang kini sudah mencapai tahap mengkhawatirkan. Menurut pantauannya pada Rabu, ketinggian sampah terus bertambah secara signifikan dari waktu ke waktu.
"Sudah parah banget, tumpukan sampahnya meningkat banget," katanya Jayadi.
Penyebaran aroma tidak sedap dari tumpukan sampah tersebut dilaporkan mencapai pemukiman penduduk mengikuti arah tiupan angin. Selain masalah bau, Jayadi mengeluhkan kemunculan lalat dalam jumlah banyak yang mengancam kebersihan lingkungan tempat tinggal mereka.
"Jika ada angin mengarah ke pemukiman sini, bau sampahnya sangat menyengat dan juga menjadi lebih banyak lalat," kata dia Jayadi.
Masyarakat mengklaim telah melakukan upaya pelaporan secara resmi melalui sarana digital yang disediakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun, Jayadi menyayangkan karena hingga saat ini aktivitas pembuangan sampah di titik tersebut masih terus berlangsung tanpa penghentian.
"Sudah pernah dilaporkan melalui JAKI tapi masih dan tetap aktif sampai sekarang," imbuhnya Jayadi.
Merespons situasi tersebut, pihak pemerintah daerah menyatakan telah mencatat adanya aduan dari masyarakat sejak akhir Februari lalu. Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Pejagalan, Andita, membenarkan bahwa laporan mengenai sampah di RW 16 Jalan Kepanduan 2 masuk secara terus-menerus.
"Yang saya tangani terkait tumpukan sampah Jalan Kepanduan 2 di RW 16 ini, itu mulai tanggal 22 Februari. Itu laporan berulang sampai saat ini," ungkapnya Andita.
Langkah awal telah diambil oleh pihak kelurahan dengan menyasar sejumlah pengelola lapak yang berada di lokasi penumpukan sampah tersebut. Andita menjelaskan bahwa teguran tertulis sudah dilayangkan kepada belasan pihak yang bertanggung jawab atas aktivitas di sana.
"Kemarin kami berikan surat himbauan itu kepada 12 lapak," kata Andita.
Guna memastikan adanya tindakan tegas lebih lanjut, pihak kelurahan berencana menggandeng otoritas keamanan wilayah. Penertiban terhadap aktivitas ilegal pembuangan sampah tersebut akan menunggu sinkronisasi langkah bersama pihak terkait.
"Untuk penindakan penertiban kita harus berkoordinasi dengan Satpol PP," tambahnya Andita.