Saham PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) mengalami tekanan hebat hingga menyentuh level terendah dalam lima tahun terakhir pada perdagangan Senin (18/5/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh rilis kinerja keuangan kuartal pertama yang berada di bawah ekspektasi pasar.
Seperti dilansir dari Investor Daily, pergerakan saham emiten produsen jamu ini ditutup merosot 6,31 persen ke posisi Rp 416 per saham setelah sempat anjlok ke Rp 410. Dalam kurun waktu sebulan terakhir, akumulasi pelemahan saham SIDO telah mencapai 19,22 persen.
Aktivitas perdagangan pada hari tersebut mencatatkan volume sebanyak 63,46 juta saham dengan frekuensi transaksi mencapai 15.551 kali. Total nilai transaksi yang dibukukan sebesar Rp 26,64 miliar, di mana investor asing melakukan aksi jual bersih senilai Rp 12,85 miliar.
Tren negatif ini terlihat sepanjang bulan Mei 2026 berjalan, di mana grafik pergerakan harga hampir selalu menunjukkan zona merah. Emiten berkode saham SIDO tersebut tercatat hanya mampu menguat satu kali, yaitu pada transaksi tanggal 7 Mei.
Merespons kondisi tersebut, BRI Danareksa Sekuritas mengeluarkan rekomendasi jual untuk perdagangan hari Selasa (19/5/2026). Penilaian tersebut didasarkan pada pergerakan teknikal saham yang dinilai masih berada dalam fase bearish yang kuat.
Analis sekuritas menjelaskan bahwa harga saham telah menembus batas psikologis atau level support penting di angka 482. Kondisi ini dinilai membuka potensi pelemahan lebih lanjut dengan target penurunan berikutnya menuju level support di angka 382.
Tekanan pada harga saham sejalan dengan kemunduran performa finansial perusahaan pada kuartal I-2026. Laba bersih Sido Muncul dilaporkan anjlok sebesar 36,8 persen secara tahunan menjadi Rp 147,2 miliar, diikuti penurunan pendapatan sebesar 19 persen menjadi Rp 640 miar.