Sektor energi dan logam mulia muncul sebagai penopang utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah tekanan geopolitik global. Tren penguatan di kedua sektor ini tercatat telah mendominasi pasar modal domestik sejak awal tahun 2026.
Dilansir dari Market, data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 30 April menunjukkan IHSG terkoreksi 19,55% ke level 6.956,81 secara year-to-date (YtD). Penurunan ini membawa indeks kembali ke posisi Juni 2025.
Kondisi pasar yang lesu juga ditandai dengan aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp49,87 triliun sepanjang tahun ini. Saat ini, valuasi IHSG berada pada level PER 14,69 kali dengan PBV 1,9 kali.
Meskipun indeks melemah, terdapat 10 saham yang tercatat sebagai motor penggerak utama. Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) memimpin jajaran tersebut dengan kenaikan harga sebesar 60,81% ke level Rp8.925.
Saham EMAS tercatat memberikan kontribusi terhadap laju indeks sebesar 36,18 poin. Di posisi selanjutnya, PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) juga menguat 41,67% YtD ke harga Rp3.230 per saham.
Sektor energi diwakili oleh PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) yang melonjak 66,31% ke Rp11.600. Emiten ini menyumbangkan 15,25 poin terhadap pergerakan IHSG sepanjang periode tersebut.
Kenaikan signifikan lainnya dibukukan oleh PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. (BIPI) yang melesat 179,09% ke Rp240. Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) turut naik 18,73% ke level Rp3.740.
Selain komoditas, sektor hiburan dan perbankan juga menempatkan wakilnya di jajaran top leaders. PT MNC Digital Entertainment Tbk. (MSIN) naik 90,48% ke Rp800, sedangkan PT Bank Mega Tbk. (MEGA) menguat 34,49% ke Rp2.210.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai tingginya harga minyak dunia menjadi katalis positif bagi emiten minyak dan gas (migas). Lonjakan harga minyak turut mendorong permintaan batu bara sebagai alternatif energi.
"Pasalnya, lonjakan harga minyak dunia membuat industri melakukan subtitusi energi dari minyak ke batu bara, membuat permintaan emas hitam ini meningkat dan memanaskan harga," kata Nafan.
| Kode Saham | Kenaikan | Kontribusi IHSG |
|---|---|---|
| EMAS | 60,81% | 36,18 poin |
| MDKA | 41,67% | 24,93 poin |
| AADI | 66,31% | 15,25 poin |
| MSIN | 90,48% | 14,38 poin |
| ADRO | 39,23% | 13,46 poin |
| MEGA | 34,49% | 12,53 poin |
| BIPI | 179,07% | 12,22 poin |
| ANTM | 18,73% | 11,09 poin |
| BNBR | 68,50% | 9,94 poin |
| ARKO | 62,18% | 8,26 poin |
Tekanan pasar saat ini dipicu oleh kombinasi konflik di Iran serta kebijakan MSCI yang menangguhkan perubahan komposisi saham Indonesia. Hal tersebut memicu arus keluar modal asing dalam jangka pendek.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan bahwa koreksi tajam telah menurunkan rasio price-to-earnings (PE) IHSG ke kisaran 11-12 kali. Angka ini berada di bawah rata-rata historis 14-15 kali.
"Hal tersebut mencerminkan bahwa sebagian besar risiko, tekanan MSCI, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian FOMC, sudah cukup banyak terdiskon oleh pasar," ujar Abida.
Abida menilai level IHSG saat ini memberikan ruang bagi investor jangka menengah untuk melakukan akumulasi bertahap. Namun, stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi kunci pemulihan pasar ke depan.
Potensi perbaikan pasar juga didukung oleh rencana reformasi internal bursa, seperti penerapan high shareholding concentration (HSC) dan perbaikan aturan free float minimal 15%.
"Dalam skenario base case, Indonesia berpotensi kembali menjadi net buy asing pada kuartal III atau kuartal IV/2026, asalkan rupiah stabil di bawah Rp17.000 dan reformasi berjalan sesuai dengan jadwal," kata Abida.