Saham Bumi Resources Melemah ke Rp 210 di Sesi I Senin

Saham Bumi Resources Melemah ke Rp 210 di Sesi I Senin
Foto: Ilustrasi Saham Bumi Resources Melemah ke Rp 210 di Sesi I Senin.

Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terpangkas hingga menyentuh level Rp 210 per lembar pada sesi pertama perdagangan hari Senin (11/5/2026). Penurunan sebesar 2,78 persen atau 6 poin ini terjadi akibat tingginya tekanan jual oleh pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Aktivitas perdagangan emiten batu bara milik Grup Bakrie dan Salim tersebut mencatatkan frekuensi transaksi sebanyak 41.628 kali dengan nilai mencapai Rp 425 miliar. Berdasarkan data BEI, sekitar 1,98 persen saham BUMI telah berpindah tangan pada perdagangan pagi ini.

Derasnya aksi jual terlihat dari catatan aplikasi Stockbit Sekuritas yang menunjukkan angka net sell sebesar Rp 164,8 miliar. Nilai penjualan bersih tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan saham-saham lain yang juga mengalami tekanan pada periode perdagangan yang sama.

Koreksi harga pada awal pekan ini memperpanjang tren negatif BUMI setelah sebelumnya melemah tajam 6,09 persen pada Jumat (8/5/2026). Pergerakan ini sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi 0,90 persen ke level 6.906,449 menjelang akhir sesi satu.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menjelaskan bahwa dinamika pasar pada pekan 11-13 Mei 2026 masih dipengaruhi oleh berbagai faktor domestik serta situasi geopolitik global.

ÔÇ£Baru-baru ini Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan keyakinannya bahwa perang Ukraina akan segera berakhir. Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa jam setelah ia berpidato menegaskan tekad kemenangan Rusia dalam perayaan Hari Kemenangan di Moskow yang berlangsung lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya,ÔÇØ ujar Hari, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT).

Terkait sentimen kesehatan global, Hari menyebutkan bahwa ancaman wabah hantavirus sejauh ini belum memberikan dampak signifikan terhadap psikologis pasar modal.

ÔÇ£Angka ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar belum menganggap isu ini sebagai risiko yang perlu diperhitungkan secara signifikan,ÔÇØ kata Hari, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT).

Fokus investor dunia saat ini juga tertuju pada rencana pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang diprediksi membahas konflik Iran.

ÔÇ£Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang negosiasi untuk isu-isu krusial lainnya seperti tarif perdagangan dan pasokan rare earth, sehingga ketidakpastian pada dua isu tersebut kemungkinan masih akan bertahan dalam waktu dekat,ÔÇØ jelas Hari, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT).

Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026 meskipun diperkirakan tidak ada emiten baru yang masuk dalam indeks tersebut.

ÔÇ£Rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026 kemungkinan tidak menghadirkan pendatang baru, namun tetap berpotensi memicu pergeseran bobot saham yang dapat memengaruhi arah pergerakan pasar secara keseluruhan,ÔÇØ ujar Hari, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT).

Selain rebalancing indeks, sektor pertambangan juga dibayangi oleh rencana perubahan tarif royalti komoditas mineral yang telah dibahas dalam public hearing Kementerian ESDM pada 8 Mei 2026.

ÔÇ£Yang perlu menjadi perhatian lebih lanjut, tekanan terhadap sektor minerba tidak berhenti pada kenaikan royalti semata. Wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax yang tengah dikaji Kementerian Keuangan turut menambah lapisan ketidakpastian, khususnya bagi subsektor nikel dan batu bara, sehingga volatilitas sektor minerba secara keseluruhan berpotensi bertahan dalam jangka pendek,ÔÇØ ungkap Hari, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT).

Artikel terkait

Rekomendasi