Nilai saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengalami tekanan sebesar 2,78 persen hingga mencapai level Rp 210 per lembar pada sesi pertama perdagangan Senin (11/5/2026). Penurunan ini dipicu oleh tingginya aksi jual oleh pelaku pasar di tengah pergerakan indeks yang masih tertahan di zona merah.
Berdasarkan laporan yang dilansir dari Money, emiten batu bara milik Grup Bakrie dan Salim tersebut mencatatkan pelemahan sebesar 6 poin. Aktivitas perdagangan terpantau sangat dinamis dengan catatan 1,98 persen saham BUMI berpindah tangan melalui 41.628 kali transaksi yang mencapai nilai Rp 425 miliar.
Data dari aplikasi Stockbit Sekuritas menunjukkan bahwa saham BUMI membukukan nilai jual bersih atau net sell sebesar Rp 164,8 miliar. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara saham-saham lain yang juga mengalami tekanan jual pada periode perdagangan yang sama.
Kondisi pasar secara umum juga tidak menunjukkan penguatan di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,90 persen ke posisi 6.906,449. Sebanyak 445 saham tercatat bergerak di zona merah dengan total volume transaksi mencapai 22,428 miliar saham di seluruh pasar.
Analis ekuitas dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, memberikan pandangan mengenai faktor-faktor global yang memengaruhi sentimen pasar saat ini, termasuk pernyataan pemimpin Rusia terkait konflik di Ukraina.
"Baru-baru ini Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan keyakinannya bahwa perang Ukraina akan segera berakhir. Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa jam setelah ia berpidato menegaskan tekad kemenangan Rusia dalam perayaan Hari Kemenangan di Moskow yang berlangsung lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya," ujar Hari, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT).
Hari juga menyoroti isu kesehatan global yang belakangan muncul, namun ia menilai dampaknya terhadap pasar modal masih cenderung terbatas berdasarkan data probabilitas yang ada.
"Angka ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar belum menganggap isu ini sebagai risiko yang perlu diperhitungkan secara signifikan," kata Hari, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT).
Selain itu, ketidakpastian hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China turut menjadi perhatian investor. Agenda pertemuan kedua kepala negara tersebut diperkirakan akan fokus pada isu geopolitik yang spesifik.
"Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang negosiasi untuk isu-isu krusial lainnya seperti tarif perdagangan dan pasokan rare earth, sehingga ketidakpastian pada dua isu tersebut kemungkinan masih akan bertahan dalam waktu dekat," jelas Hari, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT).
Dari faktor domestik, pelaku pasar sedang menantikan proses penyesuaian bobot indeks saham internasional yang akan dilakukan dalam waktu dekat tanpa adanya penambahan emiten baru.
"Rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026 kemungkinan tidak menghadirkan pendatang baru, namun tetap berpotensi memicu pergeseran bobot saham yang dapat memengaruhi arah pergerakan pasar secara keseluruhan," ujar Hari, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT).
Sektor pertambangan juga menghadapi tantangan tambahan menyusul rencana pemerintah mengubah tarif royalti beberapa komoditas mineral. Hari menekankan bahwa kebijakan ini, ditambah wacana pajak tambahan, menciptakan volatilitas bagi emiten terkait.
"Yang perlu menjadi perhatian lebih lanjut, tekanan terhadap sektor minerba tidak berhenti pada kenaikan royalti semata. Wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax yang tengah dikaji Kementerian Keuangan turut menambah lapisan ketidakpastian, khususnya bagi subsektor nikel dan batu bara, sehingga volatilitas sektor minerba secara keseluruhan berpotensi bertahan dalam jangka pendek," ungkap Hari, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT).