Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terpantau masih terjebak dalam tren penurunan yang cukup dalam hingga penutupan perdagangan pada Selasa, 2 Juni 2026. Emiten yang dikelola bersama oleh Grup Salim dan Grup Bakrie ini mencatatkan performa negatif yang signifikan di pasar modal.
Pada penutupan sesi tersebut, harga saham BUMI terkoreksi sebesar 4,17% dan mendarat di posisi Rp161 per lembar saham. Penurunan ini menambah panjang rapor merah kinerja saham perusahaan tambang batubara tersebut sepanjang tahun berjalan.
Analisis Penurunan Drastis Saham BUMI
Jika ditarik lebih jauh, kinerja saham BUMI telah merosot tajam hingga 56,01% sejak awal tahun 2026. Angka ini menunjukkan bahwa nilai pasar perusahaan telah hilang lebih dari separuh nilainya dalam periode singkat.
Kondisi ini terbilang cukup kontras jika dibandingkan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meski tekanan jual investor asing masih cukup masif, IHSG secara umum mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan dalam beberapa waktu terakhir.
Rincian Data Perdagangan dan Arus Modal Asing:
- Net Foreign Sell Harian: Pada perdagangan Selasa kemarin, saham BUMI mencatatkan penjualan bersih oleh investor asing senilai Rp20,8 miliar.
- Akumulasi Jual Bersih: Sepanjang tahun 2026, total nilai jual bersih (net foreign sell) asing di saham ini telah menembus angka Rp8,71 triliun.
- Harga Penutupan Terakhir: Saham berakhir di level Rp161 per lembar setelah mengalami tekanan jual yang konsisten.
- Persentase Penurunan YTD: Secara year-to-date, pelemahan harga saham BUMI mencapai sekitar 56,01%.
Data di atas memperlihatkan besarnya tekanan dari investor global yang terus melepas kepemilikannya pada saham BUMI. Hal ini menjadi faktor utama yang membuat harga saham sulit untuk berbalik arah ke zona hijau.
Dinamika Investor Institusi dan Dimensional Fund
Berdasarkan data dari terminal Bloomberg pada Selasa (2/6/2026), sejumlah investor institusi terlihat mulai memangkas eksposure mereka pada emiten ini. Pengurangan porsi kepemilikan tersebut telah berlangsung secara bertahap sejak awal tahun.
Salah satu manajer investasi yang menjadi sorotan adalah Dimensional Fund yang dilaporkan mulai membuang kepemilikan saham BUMI. Langkah ini menarik perhatian pelaku pasar karena dianggap mengambil posisi yang berseberangan dengan institusi besar lainnya.
Perbandingan Posisi Investor Institusi Besar:
| Nama Institusi | Aksi Korporasi / Posisi |
|---|---|
| Dimensional Fund | Melakukan aksi jual atau pengurangan porsi saham secara signifikan. |
| Blackrock | Cenderung mempertahankan posisi atau melakukan aksi beli di tengah koreksi. |
| Goldman Sachs | Terpantau melakukan akumulasi pada saham blue chip lain seperti BBRI. |
Perbedaan strategi antara Dimensional Fund dan Blackrock ini menunjukkan adanya pandangan yang beragam terhadap prospek masa depan BUMI. Sementara satu pihak memilih keluar, pihak lainnya justru melihat peluang di tengah harga yang sedang jatuh.
Sentimen Ekspor dan Pengaruh Global
Isu mengenai ekspor batu bara melalui skema DSI (Domestik Supply In obligation) juga turut mewarnai pergerakan saham di sektor energi. Beberapa emiten besar seperti BYAN, AADI, INDY, termasuk BUMI, memberikan tanggapan terkait regulasi tersebut.
Kebijakan ini dianggap krusial karena dapat mempengaruhi margin keuntungan perusahaan tambang dalam jangka panjang. Selain itu, rencana pembentukan Danantara Sumberdaya juga diprediksi akan memberikan tekanan tambahan pada operasional emiten.
Di sisi lain, pergerakan harga komoditas global dan fluktuasi nilai tukar Rupiah tetap menjadi faktor eksternal yang membayangi. Pelemahan Rupiah yang sempat menyentuh level kritis terhadap dolar AS menjadi beban tersendiri bagi industri tambang.
Meski IHSG berpeluang menguat kembali karena dorongan data inflasi dan PMI yang stabil, sektor energi masih harus berjuang keras. Investor kini lebih selektif dalam menaruh modalnya, terutama pada saham-saham yang memiliki volatilitas tinggi seperti BUMI.